Harga Karet Rp 8 Ribu, Petani di Bungo Masih Mengeluh Murah

Harga karet pada September berkisar antara Rp 7.800-8.000 per kilogram.

Harga Karet Rp 8 Ribu, Petani di Bungo Masih Mengeluh Murah
TRIBUN JAMBI/HANIF BURHANI
31052016_petani karet 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Jaka HB

TRIBUNJAMBI.COM, MUARA BUNGO - Harga karet pada September berkisar antara Rp 7.800-8.000 per kilogram. Harga ini dianggap masih belum cukup untuk para petani karet memenuhi kebutuhannya.

Heri salah satu pembeli karet di Dusun Mangun Jayo mengatakan, harga karet masih bertahan di kisaran Rp 7.800 hingga Rp 8.000 per kilonya. Jika berkaca dengan harga dolar, seharusnya harga karet sudah naik, karena dolar sekarang naik.

Katanya harga di pabrik karet di Kabupaten Bungo belum terlalu baik. Menurut Heri, masih banyak pembeli karet mengambil ke Riau.

“Kalau sekarang harga yang lumayan hanya di pabrik karet di Logas Pekan Baru Riau. Untuk membawa ke sana tentu harus banyak karet yang kita beli. Sementara kalau untuk di Bungo belum terlalu baik harganya. Ya semoga saja kondisi ini bisa cepat berubah, petani senang, kami pembeli juga ikut senang,” katanya.

Sementara Sopian, petani karet di Muko-Muko, Bathin VII, menganggap harga karet saat ini masih belum sesuai harapannya.

“Itu karet yang ditimbang dua mingguan, kalau yang harian lebih murah lagi pak, karena kondisinya masih basah. Jadi kalau untuk harga kondisi ini masih jauh dari harapan yang diinginkan. Namun mau diapakan lagi pak kami ingin makan jadi biar harga murah tetap kami jual,” ujarnya, Minggu (16/9).

Menurut dia, harga getah di tingkat petani sangat tidak seimbang dengan harga-harga kebutuhan hidup sehari-hari. Tak hanya itu, kondisi ini sangat berdampak kepada para pedagang di Bungo.

“Kondisi seperti ini, kalau terus menerus tidak ada perobahan maka, kehidupan petani semakin parah. Belum lagi untuk kebutahan anak sekolah, dan keperluan lainnya,” tuturnya.

Yan, petani karet lainnya, juga mengeluhkan kondisi harga karet saat ini. Menurutnya harga karet masih tidak seimbang dengan biaya hidup sehari-hari yang harus dikeluarkan.

"Masih enak kalau kebun milik sendiri, nah kalau milik orang lain tentu bagian yang didapat lebih sedikit," katanya.

“Tuntutan perut, mau tidak mau kami sebagai petani tetap menayadap karet dan menjual hasil getah yang kami kumpulkan, dengan harga yang  murah. Tidak ada sumber penghasilan lain pak, nak pindah usaha lain juga butuh modal,” tambahnya.

Berbeda lagi di Dusun Tenam. Harga mencapai Rp 9.500 per kilonya. "Itu harga karet bersih tanpa tatal," ungkap Ahmad, salah satu petani karet.

Dengan harga saat ini, ia berusaha mencukupi kebutuhan keluarganya. "Cukup dak cukup menyesuaikan pendapatan luas kebun," katanya.

Penulis: Jaka Hendra Baittri
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved