Krisis Finansial

2020 Krisis Finansial Bakal Kembali Menyerang, Ini Prediksi JPMorgan

Setelah tahun 1998 dan 2004, tahun ini krisis finansial kembali melanda sejumlah negara di dunia. Krisis yang sama diprediksi

2020 Krisis Finansial Bakal Kembali Menyerang, Ini Prediksi JPMorgan
Harian Kompas
Kerusuhan Mei 1998 akibat Krisis Moneter di Indonesia 

TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Setelah tahun 1998 dan 2004, tahun ini krisis finansial kembali melanda sejumlah negara di dunia.  Krisis yang sama diprediksi bakal terjadi lagi tahun 2020 mendatang.  Seberapa buruk krisis finansial yang bakal terjadi? JPMorgan Chase & Co memberikan analisanya. 

Satu dekade setelah kolapsnya Lehman Brothers yang memicu anjloknya pasar saham global dan dirilisnya kebijakan darurat, sejumlah analis JPMorgan menciptakan sebuah model yang bertujuan untuk mengukur waktu dan tingkat keparahan krisis finansial yang berikutnya. JPMorgan berpendapat, investor harus mempersiapkan diri untuk menghadapi krisis tersebut yang diprediksi terjadi pada 2020.

Baca: Usul Debat Capres-Cawapres Pakai Bahasa Inggris, Koalisi Prabowo-Sandiaga: Boleh Juga Kali Ya

Kabar baiknya adalah, berdasarkan analisis mereka, dampak krisis berikutnya tidak akan separah dibanding krisis sebelumnya. Sedangkan kabar buruknya, penurunan likuiditas pasar finansial sejak 2008 menjadi "wildcard" atau "kartu liar" yang sulit diprediksi.

Model yang dibuat JPMorgan menghitung hasil berdasarkan lamanya waktu ekspansi ekonomi, durasi dari potensi resesi berikutnya, tingkat leverage, valuasi harga aset, serta level deregulasi dan inovasi finansial sebelum terjadinya krisis. Dengan asumsi tingkat rata-rata panjangnya waktu resesi, model ini menghasilkan estimasi performa kelas aset yang berbeda untuk krisis berikutnya.

"Dilihat dari seluruh aset, proyeksi ini terlihat lebih jinak dibandingkan dengan apa yang disampaikan oleh GFC dan mungkin tidak terkait dengan rata-rata resesi / krisis di masa lalu," jelas tim riset JPMorgan John Normand dan Federico Manicardi seperti yang dikutip dari Bloomberg.

Tim riset juga menulis, selama resesi dan krisis keuangan global berikutnya, indeks S&P 500 akan turun 54% dari level  puncaknya. “Kami akan mendorong ini semua setidaknya ke norma-norma historis mereka karena wildcard dari pasar yang secara struktural kurang likuid," jelas JPMorgan.

Baca: VIDEO: Heboh Bayi Lahir Kondisi Bermata Satu dan Tanpa Hidung, Sang Ibu Syok

Baca: PNS Korupsi Terbanyak di DKI Jakarta, Berikut Perbandingan Antarprovinsi/lembaga

Sebelumnya, Marko Kolanovic dari JPMorgan juga telah menyimpulkan bahwa pergeseran besar dari investasi yang dikelola secara aktif -melalui peningkatan dana indeks, dana yang diperdagangkan di bursa, dan strategi perdagangan berbasis kuantitatif- telah meningkatkan bahaya berupa gangguan di pasar finansial. Dia dan rekan-rekannya menulis dalam catatan terpisah pada Senin lalu tentang besarnya potensi kemunculan  "Krisis Likuiditas Besar" di masa depan.

"Pergeseran dari manajemen aset yang aktif ke pasif, dan khususnya penurunan nilai investor yang aktif, mengurangi kemampuan pasar untuk mencegah dan pulih dari penarikan dana besar-besaran," tulis Joyce Chang dan Jan Loeys dalam hasil riset yang dipublikasikan Senin (10/9) lalu.

Kekhawatiran likuiditas

"Perubahan ini telah menghilangkan sekumpulan besar aset yang siap untuk dibeli oleh sekuritas publik dengan harga murah dan menghentikan gangguan pasar," Chang dan Loeys memperingatkan.

Baca: Video Dosen Minta Uang Rp2.000 pada Mahasiswa Viral di Medsos, Ini Tanggapan Kampus

Baca: RAPBN 2019 Masih Berpotensi Berubah, Ini 3 Instansi yang Anggarannya Diusulkan Bertambah

 Baca: Calon DPD RI Punya Tanggungjawab Dana Kampanye

Normand dan Manicardi menambahkan, salah satu hal yang patut digarisbawahi saat terjadinya guncangan pada emerging market adalah: aset-aset di negara berkembang menjadi lebih murah tahun ini, sehingga membantu membatasi penurunan selama krisis berikutnya sekaligus mengimbangi penumpukan utang.

Selain masalah likuiditas, Normand dan Manicardi menyoroti panjangnya masa waktu krisis berikutnya sebagai ketidakpastian penting dalam mengukur seberapa buruk krisis yang akan terjadi. Analisis mereka dari episode masa lalu menunjukkan, semakin lama resesi berlangsung, biasanya semakin besar pukulan ke pasar.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved