Tolak Temuan PBB Soal Genosida Etnis Rohingya, Myanmar Bentuk Komisi Penyelidik Independen

Pemerintah Myanmar pada Rabu (29/8/2018) menolak hasil temuan PBB yang menyatakan militer Myanmar telah

Editor: rida
Anak-anak Rohingya berjalan melewati air saat mereka berusaha untuk masuk ke Bangladesh dari No Mans Land setelah sebuah tembakan terdengar dari sisi Myanmar, di Coxs Bazar, Bangladesh, Senin (28/8). (ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammad Ponir Hossain) 

TRIBUNJAMBI.COM- Pemerintah Myanmar pada Rabu (29/8/2018) menolak hasil temuan PBB yang menyatakan militer Myanmar telah melakukan genosida terhadap etnis warga Rohingya.

Pada laporannya Senin lalu, Misi Pencari Fakta PBB (FFM) menyebut adanya bukti genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan dalam skala besar.

AFP mewartakan, malam sesi Dewan Keamanan PBB pada Selasa (28/8/2018) malam dengan beberapa negara, termasuk Amerika Serikat, menyerukan agar para pemimpin militer Myanmar segera menghadapi pengadilan internasional.

Baca: Viral Istilah Hamil Online dan Rahim Hangat, Apakah Jonatan Christie Alami Sexual Harrasment?

"Kami tidak akan membiarkan FFM memasuki Myanmar, itulah mengapa kami tidak setuju dan tidak menerima resolusi apa pun yang dibuat Dewan HAM," kata juru bicara pemerintah Myanmar Zaw Htay.

Dia menunjuk pembentukan Komisi Penyelidik Independen untuk menanggapi tuduhan palsu yang dibuat berbagai badan PBB dan komunitas internasional lainnya.

Zaw Htay juga mengecam Facebook yang menonaktifkan akun kepala militer Myanmar dan petinggi militer lainnya.

Dia mengklaim hal tersebut dapat menghambat upaya pemerintah untuk melakukan rekonsiliasi nasional.

Manajemen Facebook mengakui terlambat untuk bereaksi terhadap krisis kemanusiaan di Myanmar dan sempat menjadi wadah untuk menyebarkan kebencian terhadap Rohingya oleh orang-orang tertentu.

Pemerintah Myanmar berulang kali membantah melakukan pembersihan etnis dan menegaskan hanya merespons serangan yang dilakukan pemberontak Rohingya.

Militer Myanmar mengaku memberantas pemberontak di negara bagian Rakhine pada Agustus tahun lalu, sehingga menyebabkan 700.000 warga etnis Rohingya mengungsi ke Bangladesh.

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved