Advertorial

Ihsan Yunus: Penyehatan Garuda Perlu Kontinuitas, Dirutnya Jangan Diganti Melulu

Komisi VI DPR-RI mengawali pekan dengan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Ihsan Yunus: Penyehatan Garuda Perlu Kontinuitas, Dirutnya Jangan Diganti Melulu
IST
Anggota DPR RI Dapil Jambi dari PDI Perjuangan, Ihsan Yunus 

TRIBUNJAMBI.COM - Komisi VI DPR-RI mengawali pekan dengan melakukan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk pada Senin, 27 Agustus 2018. Hadir dalam rapat yang beragendakan paparan kinerja keuangan dan operasional Garuda ini adalah Direktur Utama Garuda, Pahala Nugraha Mansury, dan Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Survei, dan Konsultan Kementrian BUMN, Gatot Trihargo. 

Pahala mengawali rapat dengan memaparkan bahwa hingga saat ini Garuda masih mengalami kerugian sampai dengan 114 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,6 triliun pada tahun 2017. Masih adanya kerugian di Garuda ini antara lain karena tingginya beban keuangan untuk sewa pesawat yang mengambil porsi 25% dari total biaya perusahaan dan biaya bahan bakar sebesar 27% dari total biaya perusahaan.

“Saat ini, Garuda masih menerima beberapa tantangan dalam upayanya untuk menyehatkan keuangan antara lain persaingan industri yang semakin ketat, utilisasi pesawat yang belum optimal terutama untuk jenis bombardir dan ATR, tren pasar yang bergeser ke maskapai biaya murah atau low cost carrier (LCC), biaya sewa pesawat yang mahal dan faktor bencana alam di beberapa wilayah destinasi wisata favorit Indonesia,” sebut Pahala.

 Ihsan Yunus, anggota Komisi VI DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dapil Jambi, memberikan tanggapannya atas paparan Pahala dengan mengapresiasi beberapa capaian yang diraih Garuda selama dipimpin Pahala sebagai Direktur Utama. “Pak Pahala ini ibaratnya the right man at the wrong time. Beliau punya kapasitas mumpuni yang terbukti dari kinerja keuangan Garuda yang membaik walau ruginya masih besar dan kinerja operasional seperti peningkatan utilisasi pesawat, penurunan jumlah insiden, peningkatan on time performance dan sebagainya. Sayangnya memang Pak Dirut ini masuk dengan pekerjaan rumah yang terlampau banyak, antara lain menanggung kerugian yang sangat besar akibat peninggalan direksi di masa-masa sebelumnya yang sekarang ada pula yang sedang intensif diperiksa oleh KPK,” kata Ihsan.

Ihsan Yunus juga menyoroti mahalnya biaya sewa pesawat akibat disewanya pesawat jenis bombardir. “Pesawat bombardir ini peruntukan lazimnya private jet, wajar sangat mahal sewa dan maintenance-nya karena bukan sepenuhnya untuk komersil,” tambah Ihsan lebih lanjut.

“Garuda ini sakitnya cukup berat, penyehatannya butuh waktu dan harus dilakukan dengan kontinuitas. Daripada itu dokter atau dirutnya ya jangan diganti melulu, kasih waktu minimal dua tahun, baru bisa kelihatan dampak penyehatan yang dilakukan,” ujar Ihsan mengakhiri pendapatnya. (adv)

Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved