3 Menit yang Buat Dunia Tercengang Atas Aksi Kopassus, Sampai Bikin Wartawan Asing Tertegun

Kisah yang tak akan pernah akan habis untuk dibahas ialah perjuangan tentara-tentara hebat Indonesia

3 Menit yang Buat Dunia Tercengang Atas Aksi Kopassus, Sampai Bikin Wartawan Asing Tertegun
IST
Kopassus 

Di dalam pesawat tim bertemu dengan Zulfikar teroris yang sempat melemparkan granat.

Beruntung granat tersebut tak meledak karena saat dilemparkan pin pemicunya belum dibuka secara sempurna.

Lalu anggota tim menembak dan melukainya sebelum dia sempat keluar.

Sementara itu Abdullah Mulyono sempat berusaha merebut senjata anggota Kopassus.

Kopassus 'si Baret Merah'
Kopassus 'si Baret Merah' (Wikipedia)

Namun upaya tersebut tidak berhasil, pelaku teror ini ditendang keluar pesawat dan lansung disambut rentetan peluru pasukan Komando yang telah disiagakan di luar pesawat.

Nasib serupa tertembjs peluru juga dialami oleh Wendy Mohammad Zein, Ia berhasil dilumpuhkan ditembak di dekat pintu darurat.

Para penumpang kemudian disuruh keluar.

Namun satu diantara pelaku yang bernama Abu Sofyan juga turut turun dengan berpura-pura sebagai penumpang.

Abu Sofyan teridentifikasi setelah penumpang yang mengenalinya memberikan kode kepada pasukan Komando yang berada di landasan.

Abu Sofyan yang berlari menjauhi pesawat langsung ditembak.

Baca: FOTO: Deretan Kisah Heroik Kopassus, Denjaka dan Kopaska! Disegani SAS Sampai Buat Navy Seal Gentar

Baca: Navy Seal pun Gentar, Siapa Sangka Kekuatan 1 Pasukan Denjaka Setara 120 TNI Biasa

Imran bin Muhammad Zein pimpinan teroris selamat dalam peristiwa baku tembak tersebut dan ditangkap oleh Satuan Kopassus.

Tim medis kemudian datang untuk menyelamatkan pilot pesawat DC-9 Woyla, Kapten Herman Rante, yang ditembak salah satu teroris dalam serangan tersebut.

Dalam aksi kilat tiga menit tersebut Calon Perwira Achmad Kirang juga mesti gugur mengorbankan nyawanya demi keselamatan para penumpang.

Sedangkan pilot pesawat Garuda Kapten Herman Rante meninggal di Rumah Sakit di Bangkok beberapa hari setelah kejadian tersebut.

Kedua korban peristiwa terorisme ini kemudian dimakamkan di TMP Kalibata.

Usai operasi yang mencengangkan dunia tersebut para anggota yang terlibat dianugerahi Bintang Sakti dan dinaikkan pangkatnya satu tingkat.

Kecuali Achmad Kirang yang gugur di dalam operasi terebut dinaikkan pangkatnya dua tingkat secara anumerta.

Benny Moerdani Siapkan 17 Peti Jenazah

Operasi pembebasan sandera DC-9 Woyla mengangkat nama Kopassus TNI AD ke jajaran pasukan elite dunia.

Tak ada satu pun sandera yang terluka dalam misi ini.

Lima orang pembajak berhasil ditembak mati.

Keseluruhan operasi tanggal 31 Maret 1981 ini hanya berlangsung tiga menit.

Keberhasilan ini membuat dunia tercengang.

Mereka tak menyangka pasukan Indonesia bisa melakukan operasi khusus yang selama ini baru dilakukan militer negara maju.

Belakangan terungkap, tak cuma negara lain yang ragu dengan peluang keberhasilan operasi.

Benny Moerdani
Benny Moerdani (istimewa)

Bahkan Kepala Operasi Letjen Benny Moerdani pun memperkirakan keberhasilan timnya hanya 50:50.

Benny ternyata menyiapkan 17 peti mati dalam operasi itu.

Hal itu sesuai dengan perkiraan Benny bakal jatuh banyak korban dalam misi pembebasan sandera.

Perkiraan yang ternyata meleset karena usai operasi hanya dibutuhkan lima peti jenazah, itupun diperuntukkan bagi para pelaku teror seperti dikutip dari buku Sintong Panjaitan Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando yang ditulis Hendro Subroto dan diterbitkan Penerbit Buku Kompas tahun 2009. (*)

IKUTI KAMI DI INSTAGRAM:

Editor: ekoprasetyo
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved