Ini Penyebab Musnahnya Peradaban Suku Maya di Muka Bumi

Kekeringan yang melanda Meksiko sekitar seribu tahun lalu, memicu hilangnya salah satu peradaban kuno terbesar di dunia.

Ini Penyebab Musnahnya Peradaban Suku Maya di Muka Bumi
Jose Ignacio Soto/Thinkstock
Suasana senja di sekitar Piramida suku Maya di Meksiko. 

TRIBUNJAMBI.COM - Kekeringan yang melanda Meksiko sekitar seribu tahun lalu, memicu hilangnya salah satu peradaban kuno terbesar di dunia.

Para ilmuwan yang mempelajari iklim di wilayah tersebut menemukan fakta bahwa curah hujan di sana menurun hingga 70% sebelum ditinggalkan.

Runtuhnya peradaban Maya kuno telah sering dibahas peneliti. Dan gagasan mengenai kekeringan yang menjadi penyebab kehancurannyanya telah diperdebatkan selama bertahun-tahun.

Namun kini, sekelompok ilmuwan internasional berhasil mengetahui kondisi iklim di semenanjung Yucatan di waktu tersebut. Mereka meneliti sampel sedimen dari danau lokal.

“Peran perubahan iklim pada proses kejatuhan Maya memang kontroversial. Sebagian besar karena catatan-catatan sebelumnya terbatas pada rekonstruksi kualitatif. Misalnya, hanya melihat apakah kondisinya lebih basah atau kering,” kata Nick Evans, mahasiswa PhD di University of Cambridge.

“Studi kami termasuk kemajuan karena memberikan prakiraan curah hujan dan tingkat kelembapan yang kuat secara statistik selama keruntuhan Maya,” tambahnya.

Peradaban Maya klasik muncul dari 250 hingga 800 Masehi. Di akhir periode, terjadi peristiwa misterius yang menyebabkan kota kuno tersebut akhirnya ditinggalkan. Beberapa dugaan terkait pemicu kehancuran Maya meliputi perang, invasi, dan hilangnya rute perdagangan.

Suku Maya masih bertahan di beberapa wilayah hingga saat ini. Namun, saat orang Eropa pertama kali menemukannya, kekuatan mereka sangat berkurang.

Penelitian terbaru yang dipublikasikan pada jurnal Science ini, dilakukan berdasarkan studi sebelumnya pada 1990-an yang menyatakan bahwa kekeringan ekstrem di peradaban Maya berkaitan dengan perubahan ekonomi dan politik saat itu.

Bersama timnya, Evans kemudian menganalisis air yang terperangkap dalam kristal mineral gypsum – yang ditemukan di danau Chichancanab – untuk mengetahui dengan pasti perubahan curah hujan dan kelembapan wilayah ratusan tahun lalu.

Selama kekeringan, air akan lebih banyak menguap dari danau. Dan karena isotop yang lebih ringan, atau varian kimia dari air menguap lebih cepat, proporsinya yang lebih tinggi menunjukkan kekeringan. Menurut Evans, metode yang mereka gunakan ini sangat akurat.

Para ilmuwan sekarang dapat menggunakan data tersebut untuk memprediksi dampak kekeringan pada lahan pertanian di area tersebut. Juga untuk mencari tahu bagaimana perubahan iklim bisa memengaruhi keberlangsungan hidup suku Maya klasik.

Editor: Teguh Suprayitno
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved