Arkeolog Temukan Roti Berusia 14.500 Tahun di Situs Arkeologi Gurun Hitam Yordania

Sisa-sisa roti berusia 14.500 ribu tahun yang terbuat dari gandum dan umbi-umbian, ditemukan di sebuah perapian batu di situs arkeologi Gurun Hitam.

Arkeolog Temukan Roti Berusia 14.500 Tahun di Situs Arkeologi Gurun Hitam Yordania
Alexis Pantos/University of Copenhagen
Struktur yang diduga sebagai perapian -- tempat ditemukannya roti tertua. 

TRIBUNJAMBI.COM - Sisa-sisa roti berusia 14.500 ribu tahun yang terbuat dari gandum dan umbi-umbian, ditemukan di sebuah perapian batu di situs arkeologi Gurun Hitam di Yordania.

Meskipun para arkeolog dan sejarawan telah lama mengaitkan proses memanggang roti dengan munculnya pertanian di zaman Neolitikum, namun remah-remah yang baru ditemukan ini lebih tua 5.000 tahun dari penemuan sebelumnya.

Selama ini, roti tertua yang ada berasal dari situs berusia 9.100 tahun di Turki.

Pada dasarnya, membuat roti dilakukan dengan mencampur tepung dan air untuk menciptakan adonan. Kemudian, kita memanggang, menggoreng, atau mengukus adonan tersebut.

Sementara itu, roti yang ditemukan di situs Gurun Hitam, terbuat dari sereal seperti jelai dan gandum, dan dicampurkan dengan tepung umbi dari Bolboschoenus glaucus (bulrush -- tanaman yang hidup di perairan dangkal).

Hasil pindai dari remah-remah roti yang ditemukan.
Hasil pindai dari remah-remah roti yang ditemukan. (Proceedings of the National Academy of Sciences)

Situs Gurun Hitam sendiri pernah menjadi tempat tinggal kelompok masyarakat pemburu-pengumpul dari Zaman Batu yang dikenal dengan nama Natufian. Mereka awalnya menerapkan gaya hidup nomaden, namun beralih ke menetap.

Natufian memasak makanannya, termasuk roti tersebut, di perapian bulat dan besar yang dibangun di lantai pondok mereka dengan batu basal.

Para peneliti pun mencoba membuat ulang roti yang sesuai dengan milik Natufian untuk mengetahui rasanya. Mereka juga menggunakan tepung umbi dari bulrush.

“Rasanya asin serta sedikit manis, dan teksturnya agak berpasir,” ujar Amaia Arranz-Otaegui, ahli arkeobotani dari University of Copenhagen, kepada Reuters, seperti dikutip dari National Geographic.

Karena kini peneliti berhasil menemukan roti kuno itu, Arranz-Otaegui dan rekannya menduga bahwa para Natufian memasaknya tepat sebelum mereka meninggalkan lokasi. Roti tersebut mungkin dianggap sebagai camilan bergizi yang mudah dibawa dalam perjalanan.

Namun, di sisi lain, proses pembuatan roti yang cukup rumit (menggiling sereal, mengaduk adonan, serta memanggangnya terlebih dahulu) menunjukkan bahwa makanan ini mungkin disajikan untuk pesta atau acara-acara khusus.

Editor: Teguh Suprayitno
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help