Dihadapan 4 Penguji, Bupati Haris Paparkan Program 'Geber Mewah' ke Pusat

Bupati Merangin dua hari lalu telah melaunching Program Bersama Mengembalikan lahan eks PETI menjadi sawah (Geber Mewah).

Dihadapan 4 Penguji, Bupati Haris Paparkan Program 'Geber Mewah' ke Pusat
tribunjambi/herupitra
Aktivitas PETI yang terjadi di Pangkalan Jambu, beberapa waktu lalu diduga penyebab keruhnya air sungai Batang Masumai 

Laporan Wartawan Tribunjambi Muzakkir

TRIBUNJAMBI.COM, BANGKO - Bupati Merangin dua hari lalu telah melaunching Program Bersama Mengembalikan lahan eks PETI menjadi sawah (Geber Mewah).

Program baru ini ternyata disambut baik pemerintah pusat. Berdasarkan info dari Humas Setda Kabupaten Merangin, Bupati Merangin Al Haris secara gamblang dan tegas memaparkan program tersebut di depan empat orang tim penguji TOP 99 inovasi pelayanan publik tahun 2018. di Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) Republik Indonesia, Rabu (11/7) siang.

Keempat tim penguji yaitu, Prof Prasojo mantan Wamenpan RB dan guru besar UI, Nurjaman Moechtar dari Liputan 6 SCTV, Wawan Sobari dari Universitas Brawijaya dan Teguh Wijanarko staf ahli di Kementerian Menpan RB.

Baca: Resmi Terdaftar di MK, Kuasa Hukum ZA Sebut Tak Masalah Selisih Lebih 2 Persen

Dalam TOP 99 inovasi pelayanan publik tahun 2018 ini, Merangin masuk ke 99 besar inovasi dari 3000 inovasi se Indonesia. Dan juga menjadi satu-satunya perwakilan dari kabupaten kota se Provinsi Jambi.

"Pada paparan itu saya menekankan, program Geber Mewah ini merupakan gerakan moral masyarakat yang melibatkan lembaga adat dan perangkat desa, untuk ‘menguningkan’ kembali sawah yang hilang akibat PETI," bilang Haris.

Di Merangin kata Haris, ada beberapa daerah yang dulunya menjadi lumbung padinya Merangin. Satu diantaranya adalah Pangkalan Jambu. Di Pangkalan Jambu dulunya merupakan kecamatan yang menjadi lumbung padinya Kabupaten Merangin, namun setelah masuk PETI, kondisi Pangkalan Jambu jadi porak poranda. Kejadian itu dilakukan sendiri oleh warga setempat dan pendatang.

Baca: VIDEO: Jajaran Pimpinan BPJS Kesehatan Layani Langsung Masyarakat

"Untuk itulah melalui program ini, kita sentuh hati masyarakat mengembalikan sawahnya yang hilang. Saya yakin masyarakat akan tersentuh dan beramai-ramai turun menggarap lahan eks PETI itu menjadi sawah kembali," papar Bupati.

Upaya mengetuk hati masyarakat untuk menginggalkan PETI dan kembali turun ke sawah tersebut, telah dilakukan bupati sejak 2015 lalu. Selain itu, gerakan ini juga didorong pasca anjloknya harga sawit dan karet.

Berdasarkan hitungan ekonomi bupati, untuk satu hektar sawit maupun karet, jika dibandingkan dengan satu hektar padi, hasilnya lebih banyak padi. Apalagi padi bisa langsung diolah jadi beras, kalau sawit atau karet harus dijual terlebih dahulu.

Baca: Jalani Ujian Semester, Ini Imbauan Pihak Pengajar pada Mahasiswa STIKBA Jambi

Disamping itu bupati memberi pemahaman kepada masyarakat, kalau menanam padi meskipun hasilnya tidak sebanyak PETI, namun kegiatan petani itu akan terus berkesinambungan dan bekelanjutan.

"Kalau PETI itu sifatnya sementara, merusak semua sawah yang kita miliki dan sering mengundang bencana banjir serta menelan korban. Tapi kalau sawah, petani bisa lebih menjamin masa depan yang bekelanjutan,’’ sebutnya. (*)

Penulis: muzakkir
Editor: budi
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help