Bisakah Obat Herbal Jadi Solusi Alternatif Untuk Pengobatan Kanker? Ini Dia Penjelasannya

Pengobatan alternatif mulai dilirik untuk mengatasi penyakit kanker, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap memantau kondisi penyakit secara medis.

Bisakah Obat Herbal Jadi Solusi Alternatif Untuk Pengobatan Kanker? Ini Dia Penjelasannya
Thinkstockphotos
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Pengobatan alternatif mulai dilirik untuk mengatasi penyakit kanker, tetapi tidak ada salahnya untuk tetap memantau kondisi penyakit secara medis.

Menurut dr. Elisna Syahruddin, PhD, Sp.P(K) di RS Persahabatan, Jakarta, mengatakan bahwa pengobatan standar kanker paru adalah bedah, radioterapi, kemoterapi, terapi yang ditargetkan dan obat golongan immuno onkologi.

"Pengobatan herbal belum ada bukti ilmiah dapat membunuh kanker paru, akan tetapi lebih berfungsi sebagai tambahan suplemen saja," katanya pada hari Rabu (14/2/2018).

"Masih banyak warga yang lengah dan mengandalkan pengobatan herbal saja tanpa penanganan secara medis dan akhirnya terlambat untuk terapi pengobatan," tambahnya.

Hal senada diungkapkan oleh dokter Achmad Hudoyo dari RSUP Persahabatan bahwa belum ada penelitian dengan standar baku yang membuktikan khasiat pengobatan herbal untuk mengobati kanker.

"Penelitian untuk membuktikan khasiat obat butuh biaya mahal dan harus melalui tahap ekstraksi, percobaan kepada binatang dan uji klinis dalam beberapa fase yang menggunakan puluhan ribu orang atau sampel," katanya kepada Kompas.com, Rabu (14/2/2018).

Sejumlah penelitian potensi obat herbal untuk mengobati kanker telah dilakukan.

Bambang Pusjiasmanto, Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, mangatakan bahwa daun tanaman sirsak (Annona muricata) dan tanaman keladi tikus (Typhonium flagelliforme) memiliki kandungan yang membantu proses penyembuhan pasien kanker.

"Daun sirsak mengandung senyawa annonaceous acetogenins, aasimisin dan squamosin. Kandungan tersebut berperan sebagai antikanker, termasuk kanker paru-paru.

Daun sirsak lebih aman dibandingkan dengan kemoterapi," katanya, Rabu (14/2/2018).

Halaman
12
Editor: Leonardus Yoga Wijanarko
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help