Dibuat dari Kayu Mangga, Resonansi Ukulele Ini Mampu Memikat Fadly "Padi"

Kayu mangga tumbuh di halaman-halaman rumah. Orang mungkin lebih kenal buahnya dibanding fungsi pohonnya.

Dibuat dari Kayu Mangga, Resonansi Ukulele Ini Mampu Memikat Fadly
kompas.com
Wafiq Giotama dan Fadil Firdaus asal Yogyakarta menunjukkan ukulele kayu mangga (Mangifera indica) buatannya yang diberi merek Pelem Ukulele.(MLDSpot Hunt) 

TRIBUNJAMBI.COM - Kayu mangga tumbuh di halaman-halaman rumah. Orang mungkin lebih kenal buahnya dibanding fungsi pohonnya.

Padahal, kayu pohon mangga—atau pelem dalam bahasa Jawa—bisa jadi bahan pembuatan furnitur. Bukan cuma itu, kayu ini juga bisa menjadi bahan baku untuk alat musik, seperti ukulele.

Resonansinya pun memikat musisi seperti Andi Fadly Arifuddin alias Fadly "Padi". "Kualitas suaranya sama seperti kualitas ukulele-ukulele terbaik yang dibuat sama perusahaan-perusahaan besar," ujar sang vokalis yang mulai memainkan alat tersebut beberapa tahun belakangan.

Yang dipegang oleh Fadly adalah ukulele "perlawanan" buatan Wafiq Giotama dan Fadil Firdaus asal Yogyakarta. Dari kayu berjenis Mangifera indica itu, Wafiq dan Fadil coba "melawan".

Sebab, keinginan menikmati ukulele berkualitas semasa SMA harus terbentur dengan kata "mahal".

"Mau beli, tapi (waktu itu tahun 2009) enggak bisa karena di sini enggak ada, dan mesti beli di luar, dan itu harganya mahal. Sekitar Rp 6 juta," kata Fadil, yang lalu melihat ke arah Wafiq.

"Kita bikin sendiri aja yuk," lanjutnya.

Aneka desain Pelem Ukulele yang sesuai namanya memanfaatkan bahan baku kayu mangga. Desainnya berdasarkan pesanan konsumen. (MLDSpot Hunt)
Aneka desain Pelem Ukulele yang sesuai namanya memanfaatkan bahan baku kayu mangga. Desainnya berdasarkan pesanan konsumen. (MLDSpot Hunt) (kompas.com)

Tidak lama kemudian, terciptalah produk bernama Pelem Ukulele.

Petualangan mengembangkan produk itu pun dimulai tahun 2011. Pada 2014, setelah membuat ratusan ukulele, mereka akhirnya memiliki bengkel kerja berupa rumah limasan yang sudah dibangun sejak 1950-an.

Nuansa kreativitas terbangun di sana, dan tetap mengandalkan tangan langsung untuk membuat perangkat musik empat senar tersebut.

Halaman
12
Editor: Teguh Suprayitno
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help