Guru Pelaku Pencabulan Serahkan Diri, Beri Alasan Mengejutkan Pada Polisi

Tersangka merasa dirinya sakit, karena menyukai laki-laki atau penyimpangan seksual.

Guru Pelaku Pencabulan Serahkan Diri, Beri Alasan Mengejutkan Pada Polisi
Tribun Jambi/Samsul Bahri
Kapolres Muarojambi, AKBP Mardiono, saat konferensi pers di Mapolres Muarojambi, Rabu (6/6). 

Laporan Wartawan Jambi, Samsul Bahri

TRIBUNJAMBI.COM, SENGETI - MA alias RS menyerahkan diri ke Polres Muarojambi pada Jumat (11/5). Tersangka pencabulan murid itu menyerahkan didampingi beberapa orang.

Kapolres Muarojambi, AKBP Mardiono, saat konferensi pers di Mapolres Muaro Jambi Rabu (6/6), mengatakan sebelumnya satreskrim melakukan penyelidikan laporan tersebut dan menemukan adanya tindak pidana.

Berdasarkan penyelidikan tersebut, polisi berupaya menangkap tersangka, namun tidak berhasil.

"Kemudian dilakukan penyidikan dengan pemeriksaan saksi dan melakukan upaya paksa penangkapan terhadap tersangka sebanyak tiga kali. Namun tersangka belum berhasil ditemukan," jelasnya.

Dia menjelaskan, pada Jumat (11/5) sekira pukul 14.00, tersangka menyerahkan diri kepada Polres Muarojambi didampingi beberapa pihak.

Antara lain Kades Muarojambi, Kades Kemingking Luar, dan Ketua Lembaga Adat Desa, tokoh masyarakat dan Kepala Dusun Desa Melayu.

"Dalam pemeriksaan, tersangka menjelaskan bahwa tersangka melakukan perbuatan cabul terhadap korban karena di luar kendali dari tersangka dan datang secara tiba-tiba," ucap Mardiono.

Selain itu, ada beberapa alasan lagi yang disampaikan tersangka pada pihak penyidik.

Mardiono mengatakan tersangka mengaku pada saat di pondok pesantren pada 1999, pernah mendapatkan perlakuan yang serupa.

"Tersangka mengatakan pernah mendapatkan perlakuan cabul pada saat di pondok. Terkait dengan orang yang melakukan hal itu, dikatakan oleh tersangka, lupa siapa orangnya," ujarnya.

Alasan lainnya, korban mengalami kegagalan melangsungkan pernikahan dua kali. Tersangka merasa dirinya sakit, karena menyukai laki-laki atau penyimpangan seksual.

MA alias RS dikenakan Pasal 76 e Junco Pasal 82 ayat (1) Undang-undang Nomor 35/2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman paling singkat lima tahun atau paling lama 15 tahun.

"Sebagaimana disebutkan pada ayat 2, jika dilakukan pengasuh anak, pendidik atau tenaga pendidikan, maka pidananya ditambah sepertiga dari ancaman pidananya," ujar AKBP Mardiono.

Baca: Kendaraan Dinas Dipakai untuk Mudik Lebaran? Ini Jawaban Bupati Sukandar

Baca: Lindas Ribuan Botol Miras Pakai Alat Berat, Safrial Bilang Begini

Baca: Ini Pengakuan Mengejutkan Dari Pedagang Daging Beku di Pasar Kramat Tinggi

Penulis: syamsul
Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved