13 Keistimewaan Rutin Membaca Alquran, Satu Diantaranya Ditempatkan Bersama Para Malaikat

Di Indonesia setiap malam 17 Ramadhan, biasanya dilakukan tausyiah bertemakan Nuzulul Qur'an.

13 Keistimewaan Rutin Membaca Alquran, Satu Diantaranya Ditempatkan Bersama Para Malaikat
rumaysho
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Malam 17 Ramadhan adalah malam turunnya Al-qur'an.

Di Indonesia setiap malam 17 Ramadhan, biasanya dilakukan tausyiah bertemakan Nuzulul Qur'an.

Dilansir dari laman NU Online, di antara pintu terbesar untuk mencapai kelapangan hidup agar tidak terjebak dalam kesempitan yang membelenggu adalah dengan membaca Al-Qur'an.

 
Hati bisa sewaktu-waktu berkarat sebagaimana besi, mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an merupakan media pembersih karat tersebut.

Baca: Densus 88 Tangkap Doni, Terdengar Beberapa Kali Suara Tembakan

Baca: Pilkada Kerinci - Diduga Tak Netral, Pjs Bupati Diisukan Ajak PNS Menangkan Pasangan Tertentu

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam berikut:

Artinya: "Sesungguhnya hati itu bisa korosi sebagaimana besi ketika bertemu dengan air. Kemudian ada yang bertanya kepada Baginda Nabi, 'Ya Rasulallah, lalu apa yang dapat menghilangkan korosi tersebut?' Rasul menjawab, 'Banyak mengingat kematian dan membaca Al-Qur'an'." (HR Baihaqi).

Orang yang rutin menyibukkan dirinya membaca Al-Qur'an mempunyai aneka macam keistimewaan sebagaimana dikutip Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki dalam kitabnya Abwâbul Faraj, Dârul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1971, halaman 73 sebagai berikut:

Pertama, mereka diakui sebagai keluarga Allah (ahlullah) dan orang keistimewaannya yang terpilih.

Kedua, orang yang mahir membaca Al-Qur'an ditempatkan bersama malaikat-malaikat pencatat yang patuh kepada Allah yang selalu berbuat kebaikan.

Baca: Densus 88 Tangkap Doni, Terdengar Beberapa Kali Suara Tembakan

Baca: Nuzulul Quran 2018: Berikut Waktu yang Utama Untuk Membaca Alquran

22062015_BACA_ALQURAN
22062015_BACA_ALQURAN (TRIBUN JAMBI/HERI PRIHARTONO)

Menurut al-Qurthubi sebagaimana dikutip dalam kitab Fathul Bârî, yang dimaksud mahir di sini adalah orang yang cerdas, maksudnya, hafalan dan tajwidnya sama-sama mempunyai kualitas bagus, tidak perlu mengulang-ulang.

Halaman
12
Editor: ekoprasetyo
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved