Kena Bom Atom dan Gempa Bumi Dahsyat, Masjid Kobe di Jepang Tetap Berdiri Kokoh

Hampir seluruh bangunan di kota hancur, namun tidak dengan masjid Kobe yang masih kokoh berdiri.

Kena Bom Atom dan Gempa Bumi Dahsyat, Masjid Kobe di Jepang Tetap Berdiri Kokoh
Nippon.com
Gambar yang digantung di pintu masuk masjid. Ini menggambarkan Kobe pada bulan Juni 1945, setelah serangan udara. 

TRIBUNJAMBI.COM - Jepang pernah luluh lantah oleh bom atom oleh sekutu ketika perang dunia II terjadi. Tapi, ada sebuah masjid yang tidak hancur saat perang dunia II itu terjadi. Tempat ibadah itu bernama Masjid Kobe. Masjid terbesar di Jepang, dekat dengan pusat Kota Nagoya.

Masjid Kobe adalah masjid pertama di Jepang yang berdiri sejak tahun 1935, melalui donasi komunitas-komunitas muslim tetangga, yang terdiri dari orang India, Qatar, dan Turki.

Masjid Kobe merupakan masjid terbesar di Jepang yang selamat dari serangan udara selama perang dunia di Pasifik serta gempa bumi besar di Hanshin pada 1995. Bahkan, bangunan asli masjid itu masih utuh sampai saat ini.

Ketika perang dunia II, sekutu menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki, Kota Kobe tak luput dari kehancuran akibat serangan udara tersebut.

Hampir seluruh bangunan di kota hancur, namun tidak dengan masjid Kobe yang masih kokoh berdiri.

Sedikit retak pada dinding luar, dan berwarna agak kehitaman karena efek asap serangan bom atom.

Masjid Kobe merupakan Masjid terbesar di Jepang.
Masjid Kobe merupakan Masjid terbesar di Jepang.

Masjid ini sempat ditutup oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang pada 1943, untuk dijadikan tempat berlindung para tentara Jepang yang akhirnya bisa selamat.

Selepas Perang Dunia II, Pemerintah Arab Saudi dan Kuwait memberi bantuan untuk renovasi masjid agar kembali indah dan beroperasi seperti sedia kala.

Namun ujian kokohnya masjid ini kembali dibuktikan ketika Jepang dilanda gempa bumi hebat pada tanggal 17 Januari 1995, gempa bumi Hanshin-Awaji yang saat itu memakan korban jiwa sebesar 6.433 orang.

Gempa itu merupakan yang terburuk sejak gempa bumi Kanto pada tahun 1923 yang memakan 140.000 korban jiwa.

Halaman
12
Editor: budi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved