Tak Bahagia Diusia 128 Tahun, Istambulova: Saya Sekadar Menyeret Tubuh Melewati Hari
Seorang perempuan di Chechnya, Rusia, diklaim sebagai perempuan tertua di dunia yang berusia
TRIBUNJAMBI.COM- Seorang perempuan di Chechnya, Rusia, diklaim sebagai perempuan tertua di dunia yang berusia 128 tahun.
Menjelang ulang tahunnya yang ke-129 tahun pada 1 Juni mendatang, wanita bernama Koku Istambulova itu mengaku menyesal sudah hidup melebihi satu abad.
Dilansir dari Daily Mail Rabu (16/5/2018), merujuk kepada keterangan di paspornya, Istambulova lahir pada 1 Juni 1889.
Baca: Waspada Teror, Tokoh Agama Setuju Rencana Kapolda Jambi
Baca: Bantu Berantas Teroris, Pemerintah AS Tak Larang Warganya Berkunjung ke Indonesia
Baca: Pertemuan Tokoh Lintas Agama Dibuka, Kepala Intelijen Jambi Minta Warga Jangan Mudah Percaya
Jika data tersebut benar, maka dia berumur 27 tahun ketika Revolusi Bolshevik terjadi pada 1917 yang menggulingkan Tsar Nicholas II.
Dia berusia 55 tahun ketika Perang Dunia II berakhir di 1945, dan 102 tahun saat Uni Soviet runtuh pada Desember 1991.
Baca: Pertemuan Lintas Agama Hari Ini Digelar, Plt Gubernur Akan Hadiri Pernyataan Sikap
Baca: Hari Ini Tokoh Lintas Agama Jambi Berkumpul, Akan Keluarkan Pernyataan Sikap
Baca: Sidang Tuntutan Pembunuhan Indri, Anggota Keluarga Tunggu Kedatangan Terdakwa
Istambulova berkata, dia tidak melakukan olahraga maupun melakukan diet untuk menjaga umur panjang, selain menghindari daging.
"Saya sering melihat orang melakukan sesuatu supaya umurnya panjang. Saya tidak paham bagaimana saya mendapatkan usia ini. Mungkin sudah kehendak Tuhan," kata Istambulova.
Dia berujar sangat tidak bahagia dengan usianya yang bakal mencapai 129 tahun tersebut, dan mengaku sangat lelah.
"Mendapat umur yang panjang bagi saya bukanlah karunia dari Tuhan. Namun merupakan hukuman," tutur wanita yang masih bisa berbicara dengan lancar tersebut.
Istambulova berkata bahwa dia sempat berharap untuk meninggal di usia muda.
Sebab, dia mengalami hidup yang sangat mengerikan.

Antara lain ketika dia harus mengalami masa pembuangan orang-orang Chechen dan Ingush yang dilakukan Uni Soviet dari Kaukasus Utara ke Asia Tengah pada Februari 1944.
Saat itu, dia dan keluarganya tinggal di Kazakhstan.
"Di sana, kami tidak disukai oleh orang Kazakh. Saya merindukan rumah saya saat itu," katanya.
Setiap hari, Istambulova harus bekerja keras dengan menanam semangka atau menggali tanah untuk ditanami tanaman pangan.