Kisah Pilu Nenek Jumiati yang Pulang Setelah 28 Tahun Jadi TKI di Arab Saudi, Dikira Mati

"Udah lama, memang itu warga sini sekitar seingat saya 30 tahun lalu, udah hilang gak tau kemana, waktu itu saya masih

Kisah Pilu Nenek Jumiati yang Pulang Setelah 28 Tahun Jadi TKI di Arab Saudi, Dikira Mati
surya
Nenek Jumiati 

Setelah menempuh perjalanan darat dari Banyuwangi, Qibtiyah akhirnya dapat benar-benar bertemu dengan keluarganya di rumah anak pertamanya, Saiful Hadi di Kecamatan Tempurejo, Jember pada Selasa malam (15/5/2018).

Kepulangannya tersebut juga didampingi oleh Chairil, Kepala Seksi Arab Saudi Kemenlu, Panji selaku Koordinator BNP2TKI Banyuwangi dan Ferdinan selaku Koordinator BNP2TKI Serang.

"Nenek Qibtiyah terbang dari Arab Saudi kemarin, dan sempat nginap di Jakarta dan hari ini terbang dari Jakarta menuju Banyuwangi penerbangan pukul 10.20 WIB siang sampai akhirnya tadi di Banyuwangi sempat ke Bank dulu, terus kita antarkan beliau ke rumahnya di Jember bersama keluarga yakni anak pertamanya bapak Saiful dan sekarang malam ini nenek Qibtiyah resmi pulang ke pelukan keluarga," terang Chairil, Kepala Seksi Arab Saudi, Perlindungan Warga Indonesia, Kemenlu RI yang turut ikut mengantar nenek Qibtiyah.

Suasana gembira tergambar di rumah bapak Saiful malam ini, para tetangga turut antusias menyambut kedatangan Qibityah.

Saiful selaku anak pertama dari Qibtiyah, saking gembiranya, ia sampai seakan tidak bisa menggambarkan kegembiraanya itu, ia sangat bersyukur, ibunya yang hilang selama 28 tahun di Arab Sauid itu kembali ke pelukan keluarga.

"Bersyukur sekali saya mas, tidak menyangka gak bisa diungkapin, sebelumnya saya malah mengira ibu sudah meninggal tapi hari ini ibu sudah pulang alhamdulillah sekali saya bersyukur ibu bisa kembali" terang Saifu sambil terharu, anak pertama Qibityah yang menjemput ibunya mulai dari Banyuwangi sampai menuju rumahnya di Tempurejo, Jember, Selasa malam (15/2/2018) lalu.

Senada dengan Saiful, Umi Lutfah selaku anak kedua mengaku sangat berbahagia dengan kedatangan ibunya yang sudah tidak ia temui semenjak ia masih duduk di bangku SMP, ia mengaku bahwa sedikit 'pangling' atau lupa dengan wajah ibunya.

"Sudah lama sekali mas sudah sejak saya SMP saya tidak bertemu ibu, alhamdulilah hari ini saya dapat menemui ibu saya, terharu saya. Tapi saya sedikit pangling sama ibu, begitu turun dari pesawat ibu pakai baju hitam-hitam lantas langsung saya ganti baju ibu pakai baju yang tidak hitam," terang Lut sambil tersenyum bahagia.

Berbicara dengan suara yang pelan, nenek Qibitiyah berusaha melukiskan kegembiraanya kepada Surya.co.id, ia mengaku bersyukur dapat kembali dengan keluarganya. sesekali ia keceplosan mengucapkan kalimat bahasa Arab.

"Saya senang pulang dari arab" kata Qibitiyah yang suaranya sudah tidak selantang dahulu

Qibtiyah terlihat sehat dan bugar ketika ditemui malam ini, tidak banyak bicara ia lebih banyak tersenyum dan terkadang mencoba untuk tertawa. Para tetangga dengan antusias menanyai Qibtiyah. Ia berjalan layaknya anak muda, tidak terlihat lelah sedikitpun.

Saat turun dari pesawat Lutfah mengaku, ibunya berjalan dengan lincah menghampiri ia dengan Saiful.

"Ibu sudah setua ini alhamdulillah masih sehat, ia terlihat lincah mas pas waktu turun dari pesawat tadi," ujar Lutfah

Sebelumnya diketahui nenek Qibtiyah berhasil ditemukan oleh tim gabungan Saunesia yaitu Saudara Arab Saudi dan Indonesia dalam hal ini Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi Agus Maftuh Abegebriel, Kedutaan Besar Arab Saudi di Indonesia Osama Muhammad Abdullah Al Shuaibi dan Gubernur Riyadh Faisal bin Bandar Al Saud.

Nenek Qibtiyah dipulangkan ke Indonesia pada (13/5/2018) menggunakan penerbangan Emirates Airline EK 818 dan EK 356 secara VIP dari Gubernur Riyadh sebagai bentuk apresiasinya kepada Nenek Jumianti.

Baca: LIVE STREAMING: Tembak Menembak Antara Densus 88 dan Teroris di Manukan Surabaya

Sering disiksa majikan

Jumanti alias Qibtiyah (74) akhirnya kembali ke tanah air, ia resmi kembali ke keluarganya di Jember, Selasa malam (15/5/2018) setelah menempuh perjalanan panjang dari Arab Saudi menuju Indonesia.

Selama jadi TKW di Arab Saudi,nenek yang meninggalkan Jember, Agustus tahun 1990 itu, mencoba mengingat dan menjelaskan suka dukanya selama jadi TKW di Arab Saudi selama 28 tahun.

"Majikan pertama kereng (pemarah) suka bentak-bentak, moroan tangan (keras)," kenang Qibtiyah dengan suara layu, kepada Surya.co.id (tribujatim.com).

Qibtiyah kerap gonta-ganti majikan selama ia bekerja, ia mengaku sudah empat kali berganti majikan.

Bahkan ia pernah mengaku hanya diberi upah makananan oleh majikannya.

"Sudah empat kali, ya digaji kalau saya minta, kadang ya lupa, ya dikasih makan aja," kenang Qibtiyah.

Atas jerih payahnya selama 28 tahun akhirnya nenek Qibtiyah terima gaji sebesar 76 ribu Riyal, atau sekitar 266 juta Rupiah di KBRI Riyadh beberapa waktu lalu.

Penyerahan tersebut diwakili oleh Kapten Ibrahim Muhammad.

Nenek Qibtiyah mengaku senang dapat uang yang menjadi haknya selama ia bekerja.

Ke depan ia akan menabung uang itu supaya tambah banyak.

Bahkan ia meminta untuk dibukakan rekening tabungan ketika perjalanan di Banyuwangi.

"Alhamdulillah senang, nanti ditabung biar tambah banyak," kata Qibtiyah malam itu sambil tersenyum.

Chairil, selaku Kepala Seksi Arab Saudi Kemenlu menjelaskan, Nenek Qibtiyah sepak terjangnya di Arab Saudi memang sukar diketahui karena yang bersangkutan sudah lupa, namun selama memasuki usia senja ia mendapat perlakuan yang baik.

"Memang sepak terjangnya, atau track record dia bekerja sama siapa aja memang susah ya diketahui udah lama sekali itu, sang nenek juga daya ingatnya sudah menurun, yang jelas yang saya tahu di majikan terakhir ini dia disuruh nemenin, enggak disuruh yang macem-macem," terang Chairil.

Soal gaji Qibtiyah, Chairil menuturkan itu memang hak dari Qibtiyah dan diserahkan oleh Kapten Ibrahim Muhammad selaku keponakan dari majikannya yang terakhir. Bahkan Ibrahim mengaku sudah menganggap Qibtiyah sebagai keluarganya.

"Selama di Arab yang saya tau baik-baik aja ya terakhir ini, dia disuruh nemenin, engga disuruh ngapa-ngapain, soal gaji sih emang haknya dan sudah diserahkan oleh Kapten Ibrahim beberapa waktu lalu," pungkas Chairil.

(Surya/Erwin Wicaksono)

Artikel ini telah tayang di Tribunjatim.com dengan judul Dikira Mati, Nenek Jumanti Akhirnya Pulang Usai 28 Tahun Jadi TKI di Arab Saudi, Simak Kisah Pilunya, 

Editor: suci
Sumber: Tribun Jatim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help