Perda Ternak di Sarolangun Belum Maksimal Penerapannya Begini Komentar Hilalatil Badri

Pada 2007 Pemerintah Daerah Sarolangun mengeluarkan Perda No. 19 Tahun 2007 soal pengaturan hewan ternak.

Perda Ternak di Sarolangun Belum Maksimal Penerapannya Begini Komentar Hilalatil Badri
TRIBUN JAMBI/HERUPITRA
Hilallatil Badri 

Laporan wartawan Tribun Jambi Teguh Suprayitno

TRIBUNJAMBI.COM, SAROLANGUN - Dua kali aturan soal hewan ternak dibuat di Sarolangun namun tak satupun berhasil.

Pada 2007 Pemerintah Daerah Sarolangun mengeluarkan Perda No. 19 Tahun 2007 soal pengaturan hewan ternak.

Delapan tahun kemudian, tepatnya 3 Agustus 2015, Bupati Sarolangun Cek Endra menandatangi pengesahan Perda Nomor 04 Tahun 2015 tentang Ketertiban Umum.

Pada pasal 25 tertulis, ayat (1) tertulis, pemerintah daerah berwenang melakukan pembinaan, pengawasan, pengendalian dan perlindungan terhadap pemilik hewan ternak dan hewan peliharaan di masyarakat.

Pada pasal 26 dijelaskan, kewajiban pemilik ternak yang diatur dalam delapan poin paya ayat (1). Bahwa pemilik ternak wajib memiliki kandang untuk ternaknya, mengembala pada padang gembala, mengikat saat digembala, hingga menjaga hewan peliharaannya untuk tidak berkeliaran dilingkungan pemukiman dan ruang lalu lintas.

Pada ayat (3) tertulis, jika pemilik ternak melanggar, bisa dikenakan sanksi administratif mulai teguran lisan, denda hingga penyitaan. Namun aturan itu tak berjalan maksimal. Sampai saat ini banyak ditemukan hewan ternak berkeliaran di pemukiman warga dan jalanan umum.

Wakil Bupati Sarolangun Hillalatil Badri mengakui jika penerapan Perda soal hewan ternak di Sarolangun yang menjadi tanggung jawab Satpol PP belum berjalan maksimal. "Yang jelas ini (perda soal ternak) belum dilakukan secara keseriusan," katanya, Kamis (29/3).

Sementara, Kepala Dinas Peternakan dan perikanan Kabupaten Sarolangun, Asnawai mengatakan perda yang dibuat pada 2007 sudah berjalan, namun tidak maksimal.

Ia mengaku pihaknya secara teknis hanya mengatur soal untuk budidaya ternak dengan baik. Mulai dari mengandangkan, memberi pakan hingga menjaga kesehatan hewan ternak. "Kalau yang kliar-kliaran itu kalau kami nangkapnyo benturan dengan satpol PP," katanya.

Dia menerangkan jika budidaya hewan ternak yang baik adalah dengan mengurung atau mengandangkan, dan diberi makan secara teratur, bukan dilepas liarkan.

Penulis: Teguh Suprayitno
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved