Polda Jambi akan Cek Lokasi Tambang

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tambang batu bara di Jambi banyak yang kelihatannya sudah tidak aktif lagi. Hal itu

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Tambang batu bara di Jambi banyak yang kelihatannya sudah tidak aktif lagi. Hal itu terlihat dari tidak adanya aktivitas di lokasi tambang, setelah perusahaan mengeruk 'emas hitam' dari dalam perut bumi.

Aktivitas pertambangan batu bara ini telah mengubah struktur tanah. Kini yang tersisa hanya lubang raksasa, karena perusahaan belum melakukan reklamasi, yang seharusnya menjadi kewajibannya. Satu di antaranya terlihat di sebuah tambang batu bara di Kecamatan Muara Bulian.

Lubang raksasa yang ada di sana, yang terjadi akibat dari pengerukan untuk mendapatkan batu bara, belum direklamasi oleh perusahaan. Namun perusahaan belum bisa dikonfirmasi, sebab kantornya yang di lokasi tidak berpenghuni lagi. Demikian juga kepala teknik tambang yang dulu bekerja di sana sudah tak bisa lagi dihubungi via ponsel.

Reklamasi merupakan kegiatan yang bertujuan menata kegunaan lahan yang terganggu sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan, agar dapat berfungsi dan berdaya guna sesuai peruntukannya. Reklamasi ini menjadi kewajiban dari perusahaan, sebagaimana tertuang dalam peraturan yang ada di negara ini.

Menanggapi kondisi ini, Polda Jambi menyebut bakal melakukan pengecekan ke lapangan. Hal itu diungkapkan Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Jambi, Kombes Pol I Komang Sandi Asrana.

Dia akan menyampaikan hasil pemeriksaannya setelah melakukan pengecekan ke lokasi tambang yang belum reklamasi. "Saya cek dululah kondisinya seperti apa baru bisa ngomong apakah menyalahi atau tidak. Nanti dikabarilah ya," kata Kombes Sandi, Selasa (14/3).

Dia menyebut untuk saat ini belum bisa mengatakan perusahaan telah lakukan pelanggaran dan mengabaikan kewajiban atau belum. Semua tergantung pada hasil pengecekan lapangan. "Saya belum tahu sejauh apa kondisi terakhir di lapangan," terangnya.

Sementara Novaizal, Kasi Bimbingan dan Pengawasan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Provinsi Jambi menyebut bahwa sebenarnya perusahaan itu belum selesai beroperasi. Aktivitas tambang hanya berhenti sementara.

Dulu harga batu bara rendah akhirnya perusahaan menghentikan produksi supaya tidak rugi," katanya, kemarin (13/3).

Sementara terkait tambang batu bara yang di Muara Bulian, dia mengatakan tambang itu juga belum selesai melaksanakan usahanya. Hanya saja saat ini memang berhenti operasi sementara. Dia bilang nanti perusahaan tersebut akan kembali lagi melakukan produksi.

"Tambang itu belum selesai, ada lubang yang di bawahnya tersedia cadangan batu bara dalam jumlah yang cukup. Nanti mereka akan masuk lagi," katanya.

Namun pantauan di lapangan, justru tidak ada aktivitas apapun lagi di sana. Demikian juga dengan tambang yang berada di Kecamatan Batin XXIV, sudah tak ada aktivitas di lubang raksasa yang dulunya dikeruk sangat dalam.

Fery, Direktur Eksekutif Perkumpulan Hijau, bahkan menyebut saat ini ada 80 persen bekas tambang batu bara yang belum direklamasi. Dia mempertanyakan komitmen pemerintah dan perusahaan tambang.

Pantauan Tribun di bekas pertambangan di Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari, kawasan tersebut tampak telantar. Tidak ada lagi pengamanan menuju ke mulut tambang. Pos pengamanan di jalan masuk ke stockpile dan mulut tambang kosong. Jalan masuk cuma ‘dijaga’ oleh portal besi.

Saat Tribun menelusuri lebih jauh ke dalam lokasi, bangunan mess dan kantor masih berdiri. Bangunan dari papan. Pintu mess dan kantor digembok, namun tapi papan bangunan terlihat sudah mulai keropos, bahkan ada yang jebol. Tak ada yang mengisinya dalam beberapa tahun terakhir. (tim)

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved