TribunJambi/

Kerahkan Jet Siluman Dalam Jumlah Besar, Sinyal Amerika akan Serang Dadakan Ke Korut

Militer AS yang hingga saat ini terus saja ditantang oleh militer Korut untuk berperang memberikan reaksi yang lebih serius

Kerahkan Jet Siluman Dalam Jumlah Besar, Sinyal Amerika akan Serang Dadakan Ke Korut
net
Pesawat Siluman F-22 Raptor 

TRIBUNJAMBI.COM - Perseteruan antara AS dan Korut setelah Kim Jong Un merayakan peluncuran rudal balistik Hwasong-15 pada Rabu (29/11/2017) makin memanas.

Militer AS yang hingga saat ini terus saja ditantang oleh militer Korut untuk  berperang memberikan reaksi yang lebih serius dengan cara mengirimkan lebih banyak lagi pesawat tempur berteknologi  siluman (stealth) ke Korsel.

Puluhan jet tempur siluman generasi paling mutakhir  milik  AU AS (USAF)  yakni F-22 Raptor dan F-35 Lightning II telah berada di Korsel pada Sabtu (2/12/2017)  dan tinggal menunggu perintah untuk kapan saja menyerang Korut.

Kedua jenis pesawat siluman USAF  yang bisa dipersenjatai bom nuklir itu sebenarnya sama sekali bukan merupakan tandingan jet-jet tempur tua AU Korut dan senjata antiserangan udara Korut karena tidak bisa ditangkap radar.

Selain jet-jet tempur siluman USAF juga menempatkan jet-jet tempur canggihnya lainnya di Korsel seperti puluhan F-15 dan  F-16, pengebom nuklir B-1B Lancer, dan pesawat peringatan dini E-3 AWACS.

Jumlah total pesawat tempur USAF dan Korsel yang hingga saat ini telah disiagakan untuk menggempur Korut mencapai 230 unit serta  mulai melakukan latihan perang bersama 12.000 personel militer AS-Korsel.

Dilihat dari banyaknya pesawat  tempur yang sudah disiagakan oleh AS dan Korsel  untuk sewaktu-waktu menyerang Korut, tampaknya militer AS akan menggunakan taktik serangan dadakan (pre emptive war) seperti ketika pasukan koalisi AS menggempur Irak (2003) dan Afghanistan (2001).

Pilihan meggempur Korut secara dadakan itu dianggap sebagai stategi tempur paling  tepat oleh AS-Korsel mengingat militer Korut tidak mungkin dalam kondisi siaga selama 24 jam.

Kelemahan militer Korut salah satunya adalah pada ketidakmampuan menyediakan aliran listrik selama 24 jam sehingga pada jam-jam tertentu stasiun peluncuran rudal dan vasilitas vital militer di Korut dalam kondisi  dimatikan.

Serangan dadakan yang diterapkan militer AS-Korsel ketika menyerang Korut juga bertujuan untuk membungkam ribuan peluncur roket, meriam artileri, depot-depot senjata kimia, pangkalan udara dan pangkalan rudal, menggempur tempat persembunyian Kim Jong Un,  serta markas komando militer, sebelum sempat digunakan.

Jika serangan dadakan yang dilancarkan AS-Korsel berhasil maka akan segera dilanjutkan serangan melalui darat . Tujuan serangan darat itu adalah menghancurkan fasilitas nuklir Korut, menangkap atau membunuh Kim Jong Un, dan menggulingkan pemerintahan komunis Korut lalu menggantikannya dengan pemerintahan demokratis ala Barat.

Taktik serbuan dadakan militer AS-Korsel memang akan berhasil gemilang jika Korut belum sempat melakukan perlawanan. Tapi militer Korut sendiri ternyata sudah menyiapkan diri untuk menghadapi serbuah militer AS-Korsel dan pasukan sekutu AS lainnya dalam bentuk perang apa saja serta kapan saja.

Korut bahkan menegaskan kekuatan  militernya kini sedang seperti harimau lapar dan siap menerkam apa saja.

Menurut media harian Korut Rodong Sinmun apa pun senjata yang akan dikerahkan oleh militer AS-Korut tidak bisa lepas dari terkaman ‘’mulut harimau yang lapar’’. Militer Korut bahkan mengancam, begitu militer AS-Korut mulai menyerang, Korut betul-betul akan meluncurkan rudal balistik berhulu ledak nuklir ke daratan AS.

Sumber : intisari online

Editor: awang
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help