Tak Ada Air Untuk Wudhu, Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Tuntut Transparansi SPP

Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Selasa (7/11) pagi melakukan aksi unjuk rasa di kampus Mendalo,

Tak Ada Air Untuk Wudhu, Mahasiswa UIN Sultan Thaha Saifuddin Tuntut Transparansi SPP
ist
Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Selasa (7/11/2017) pagi melakukan aksi unjuk rasa di kampus Mendalo, Jambi Luar Kota (Jaluko) Kabupaten Muarojambi. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Deni Satria Budi

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Ratusan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Selasa (7/11) pagi melakukan aksi unjuk rasa di kampus Mendalo, Jambi Luar Kota (Jaluko) Kabupaten Muarojambi.

Dalam aksinya, mahasiswa menuntut transparansi anggaran dari pihak universitas. Menurut Ari Kurniadi, koordinator lapangan (Korlap) aksi mereka juga menuntut fasilitas dari kampus dan efisiensi dari civitas akademik yang jarang ditempat atau para dosen yang tidak tepat waktu.

"Kita minta adanya transparansi. Uang UKT atau SPP yang tidak jelas. Karena, untuk mahasiswa baru masih dimintai uang Rp 30 ribu untuk kartu mahasiswa. Seharusnya itu sudah termasuk di dalam SPP yang dibayarkan. 3.000 dikali Rp 30 ribu per mahasiswa," jelas Ari.

Fasilitas kampus yang dituntut bilang Ari, tidak muluk-muluk. Mahasiswa cuma ingin setiap ingin ke kamar mandi ada airnya. Karena, hampir semua fasilitas kamar mandi untuk mahasiswa kata Ari, tidak ada airnya.

"Mau salat saja tidak ada airnya. Tidak usah fasilitas yang lain dululah. Sementara ini air saja dulu dilengkapi di setiap kamar mandi. Kalau jalan, lihatlah rusaknya seperti apa," tutur Ari.

"Belum lagi civitas akademik yang tidak efisien. Pegawainya jam 11 sudah pulang. Dosennya yang kadang terlambat. Bagaimana mahasiswa mau urusan," tutur Ari.

Meskipun dalam aksi itu ada perwakilan dari rektorat yang meminta para mahasiswa bertemu, namun ditolak mahasiswa. Para pengunjuk rasa hanya ingin rektor yang menemui mereka.

"Karena cuma rektor yang punya SK. Kalau yang lain kan cuma pelaksana tugas saja," sebut Ari, seraya akan tetap melanjutkan aksi mereka apabila rektor tidak mau bertemu dengan mahasiswa.

Sempat tidak ada proses belajar mengajar paginya karena semua mahasiswa melakukan unjuk rasa. Namun, saat ini sebagian mahasiswa sudah ada yang masuk mengikuti proses belajar mengajar seperti biasa.

Dalam aksi unjuk rasa yang dilakukan di dalam kampus tersebut, mahasiswa juga membakar ban.

Penulis: budi
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help