TribunJambi/

Putusan Dinilai Ringan, JPU Ajukan Banding Atas Putusan Terdakwa Andyk

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Jambi ajukan banding terkait hasil sidang putusan terdakwa Andyk Tjendono Sanotoso

Putusan Dinilai Ringan, JPU Ajukan Banding Atas Putusan Terdakwa Andyk
TRIBUNJAMBI/DEDY NURDIN
Andyk Tjendono Santoso, terdakwa kasus dugaan korupsi pengadaan jembatan timbang portabel di Dinas Perhubungan Kabupaten Batanghari tahun 2010 

Laporan Wartawan Tribun Jambi, Dedy Nurdin

TRIBUNJAMBI.COM,JAMBI - Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Tinggi Jambi ajukan banding terkait hasil sidang putusan terdakwa Andyk Tjendono Sanotoso dalam kasus dugaan korupsi pengadaan jembatan timbang portabel di Dinas Perhubungan Batanghari tahun 2010 lalu. 

Pernyataan banding ini disampaikan F Rozi, salah satu tim JPU yang menangani kasus tersebut saat dikonfirmasi, beberapa waktu lalu.

"Bukan dia (Andyk) yang banding, kita yang mengajukan banding," katanya. 

Kepada awak media F Rozi mengatakan pihaknya merasa keberatas atas putusan yang dijatuhkan kepada terdakwa karena dinilai terlalu ringan. 

Poin keberatan dalam kasus ini kata F Rozi terkait putusan mengenai uang pengganti kerugian negara yang dibebankan kepada terdakwa yang dinilai tidak sesuai dengnn kerugian negara serta poin tuntutan JPU pada sidang sebelumnya. 

"Putusannya kemarin kan UP (Uang Pengganti) 28 juta yang kita tuntut 300 juta lebih itu sesuai tuntutan," ujarnya. 

Menurut F Rozi tuntutan 360 juta ini sesuai dengan kerugian negara yang ditimbulkan dalam kasus dugaan korupsi ini. 

"Kalau majelis hakim kan berpendapat Rp 28 juta ini sesuai yang diterimanya. Kalau kitakan beda membebankannya sesuai kerugian negara ini," ujarnya. 

Terkait perisiapan pengajuan banding ini kata F Rozi saat ini pihaknya masih menyusun memori banding

"Karena kan putusannya belum inkrah, masih ada batas waktu pikir-pikir kemarin, hari Senin atau Selasa ini kita ajukan memorinya," pungkasnya. 

Seperti diketahui dalam persidangan dengan agenda amar putusan lalu,  Andyk Tjendono divonis pidana penjara selama satu tahun 10 bulan atau 22 bulan. 

Serta denda Rp28 Juta uang pengganti. Sementara dalam tunutan sebelumnya JPU menuntut terdakwa dibebankan uang pengganti sebesar 360 juta sesuai kerugian negara yang ditimbulkan.

Penulis: Dedy Nurdin
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help