Usai Pengangkatan Jenazah di Lubang Buaya, Soeharto Curiga Oknum TNI AU Terlibat G30S/PKI

Empat hari setelah pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau lebih dikenal G30SPKI, tepatnya Senin

Editor: rida
(ARSIP FOTO) KOMPAS / JB SURATNO
Jenderal Besar Soeharto berbincang dengan Jenderal Besar AH Nasution, sesaat sebelum menerima ucapan selamat pada acara silaturahmi di Istana Negara, Jakarta, Minggu (5/10/2007) siang. 

TRIBUNJAMBI.COM- Empat hari setelah pemberontakan Gerakan 30 September Partai Komunis Indonesia atau lebih dikenal G30SPKI, tepatnya Senin, 4 Oktober 1965, Mayjen TNi Soeharto berhasil melacak keberadaan para jenderal yang menjadi korban kekejaman pemberontakan PKI.

05102017_soeharto soekarno AH Nasution
05102017_soeharto soekarno AH Nasution ()

Para korban keganasan PKI tersebut antara lain adalah:

- Letjen TNI Ahmad Yani yang menjabat sebagai Panglima Angkatan Darat sekaligus Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi.

- Mayjen TNI Raden Suprapto selaku Deputi II Menteri sekaligus Panglima AD bidang Administrasi

- Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono sebagai Deputi III Menteri sekaligus Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan

- Mayjen TNI Siswondo Parman selaku Asisten I Menteri sekaligus Panglima AD bidang Intelijen.

- Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan sebagai Asisten IV Menteri sekaligus Panglima AD bidang Logistik

- Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo selaku Inspektur Kehakiman sekaligus Oditur Jenderal Angkatan Darat.

- Ajudan Jenderal TNI Abdul Harris Nasution, yakni Lettu CZI Pierre Andreas Tendean.

Soeharto yang merupakan pejabat tertinggi di TNI AD kala itu ditunjuk menjadi penaggung jawab penumpasan G30SPKI sekaligus menemukan jenazah para korban.

Peristiwa berdarah itu masih menjadi misteri hingga kini, termasuk Surat Perintah 11 maret (Supersemar) yang diberikan Soekarno kepada Soeharto dengan kewenangan tidak terbatas.

Terlepas dari sejarah tersebut, beredar rekaman pidato Soeharto usai melakukan pengangkatan jenazah korban penyerangan anggota PKI di Lubang Buaya, Pondok Gede, karata Timur pada Senin, 4 Oktober 1965.

Dalam video berdurasi 6 menit 2 detik yang diunggah dalam Youtube itu, Soeharto menyesalkan pembantaian para jenderal sekaligus menaruh curiga jika oknum TNI Angkatan Udara terlibat dalam pembantaian tersebut.

Berikut rekaman pidato Soeharto kala itu,

'Pada hari ini tanggal 4 Oktober 1965, kita bersama-sama dengan mata kepala masing-masing telah menyaksiken suatu pembongkaran daripada penanaman jenazah para jenderal kita, ada enam jenderal, dengan satu perwira pertama dalam suatu lubang sumur lama.

Halaman
12
Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved