TribunJambi/

Harga Sukhoi Ternyata Kemahalan, Pemerintah Kecele

Pemerintah nampaknya masih belum puas dengan rencana pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi. Rupanya ada keinginan untuk

Harga Sukhoi Ternyata Kemahalan, Pemerintah Kecele
Sukhoi Su-35 Flanker-E 

TRIBUNJAMBI.COM - Pemerintah nampaknya masih belum puas dengan rencana pembelian 11 pesawat tempur Sukhoi. Rupanya ada keinginan untuk menambah lagi jet tempur buatan Rusia tersebut.

Tapi, pemerintah tidak ingin mengeluarkan uang lebih untuk mendapatkan tambahan Sukhoi tersebut. Mereka ingin, dengan imbal dagang senilai US$ 1,14 miliar yang awalnya akan digunakan untuk mendapatkan 11 Sukhoi SU- 35, bisa mendapatkan pesawat lebih dari yang direncanakan.

Maklum saja, berdasarkan data Wikipedia, harga satu unit Pesawat Sukhoi SU-35 diperkirakan antara US$ 40 juta- US$ 65 juta. Artinya, dengan imbal dagang US$ 1,14 miliar, harusnya jumlah pesawat yang bisa didapat sekitar 15 unit - 17 unit.

Mardiasmo, Wakil Menteri Keuangan mengatakan, untuk mewujudkan keinginan tersebut pemerintah akan merenegosiasikan rencana pembelian Sukhoi tersebut. Renegoisasi dilakukan atas perintah Presiden Jokowi

"Presiden hanya ingin harga dinegoisasikan supaya lengkap dapatnya, dinegoisasikan supaya dapat lebih banyak," katanya di Jakarta, Rabu (20/9).

Mardiasmo mengatakan, negoisasi akan dilakukan oleh Ryamizard Ryacudu, Menteri Pertahanan dan Gatot Nurmantyo, Panglima TNI. Pemerintah berencana melakukan imbal dagang dengan Rusia untuk mendapatkan Pesawat Tempur Sukhoi SU- 35.

Ryamizard mengatakan, dari imbal dagang tersebut pemerintah bisa mendapatkan 11 pesawat. Direktur Fasilitasi Ekspor dan Impor Kementerian Perdagangan mengatakan, dari sisi Indonesia, nantinya ada 16 komoditas yang akan dimasukkan ke dalam kesepatan imbal dagang dalam pengadaan Sukhoi tersebut.

Produk tersebut antara lain CPO beserta turunannya, tekstil dan furnitur. Selain itu, produk pertahanan buatan Indonesia juga akan masuk dalam komoditas yang diimbaldagangkan.

Ke-16 produk tersebut merupakan permintaan dari Rusia. "Dan saat ini kami sedang koordinasi dengan eksportir untuk memenuhi itu,"katanya.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help