TribunJambi/

'Umur Saya 4 Tahun Waktu Mak Saya Dibunuh dengan Kejam, dan Ayah Saya Diculik Tentara'

Keluarga etnis Rohingya hanya dapat berdoa kepada Allah atas serangan terhadap etnis mereka di Myanmar agar dapat dihentikan segera.

'Umur Saya 4 Tahun Waktu Mak Saya Dibunuh dengan Kejam, dan Ayah Saya Diculik Tentara'
Sorot
Faridah (dua, kanan) bersama suami dan ahli keluarganya yang lain mengikuti perkembangan di Myanmar menerusi saluran portal berita atas talian. 

TRIBUNJAMBI.COM, SABAK BERNAM - Keluarga etnis Rohingya hanya dapat berdoa kepada Allah atas serangan terhadap etnis mereka di Myanmar agar dapat dihentikan segera.

Faridah Abdul Rahim, 27, menceritakan, ia menangis setiap hari setiap mengikuti informasi terkait etnis minoritas muslim Rohingya yang dipukul, dibuli, dirogol, dibunuh dan rumah mereka dibakar.

Dilansir Sinarharian.com, kekejaman yang dilakukan Kerajaan Myanmar tidak berperikemanusiaan dan melanggar hak asasi manusia. "Kami tidak tahu bagaimana caranya penganiayaan ini dapat dihentikan, sedangkan setiap hari hanya ada kejadian sedih yang menimpa saudara Muslim kami di sana," ujarnya.

"Bayangkan saudara kami terbunuh saat berdoa, perbuatan yang tidak berperikemanusiaan, membunuh orang yang tidak bersalah," katanya.

Faridah mengatakan, konflik di rantau Arakan hanya dapat dipulihkan melalui campur tangan penguasa besar dunia di Myanmar.

"Saya mengharapkan semua negara bersatu melawan kekejaman yang dilakukan terhadap Rohingya.

"Cukup-sudah cukup apa yang telah dilakukan kepada kita sepanjang masa, jangan teruskan penganiayaan ini sedemikian rupa," katanya.

Sementara itu, suaminya, Mohd Hussin Nizamudin, 27, turut menyatakan kesedihan atas peristiwa di negaranya itu..

Ia mengatakan, ia tidak sudah merasakan kekejaman tentara Myanmar sejak masih ketika masih remaja.

"Saya telah dipukul dan dicap oleh tentara di sana. Sehingga kini lebam di kepala masih dirasakan.

"Ketika berusia 4 tahun, Mak saya dibunuh dengan kejam. Perbuatan mereka sangat tidak berperikemanusiaan, seolah-olah kehidupan manusia tidak mempunyai nilai, "katanya.

Ditambahkannya, bhawa dia dan saudaranya, Muhammad Saddam, 24, terpaksa pergi ke negara Banglades ini sekitar 13 tahun lalu.

"Bapa kita juga diculik tentara Myanmar. Kami kehilangan tempat bergantung dan terpaksa pergi mencari jalan keluar agar hidup lebih baik."

"Hingga hari ini, kita tidak tahu apakah bapak masih hidup atau tidak. Saya harap bertemu dengan bapak saya, jika tidak di dunia, mungkin kita boleh bertemu di surga nanti," katanya.

Sumber: Sinarharian.com

Penulis: fifi
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help