TribunJambi/

Suku Bunga Turun, Ini Kata Analis Untuk Saham Perbankan

Penurunan BI 7-Days Repo Rate Agustus lalu, nyatanya juga diiringi penurunan harga saham emiten perbankan. Analis melihat,

Suku Bunga Turun, Ini Kata Analis Untuk Saham Perbankan
ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARI

TRIBUNJAMBI.COM - Penurunan BI 7-Days Repo Rate Agustus lalu, nyatanya juga diiringi penurunan harga saham emiten perbankan. Analis melihat, turunnya bunga deposito serta isu relaksasi memicu kekhawatiran pelaku pasar. Meski demikian, saham perbankan masih prospektif untuk jangka panjang.

Bank Indonesia pada 22 Agustus lalu kembali menurunkan BI 7-Days Repo Rate dari sebelumnya 4,75% menjadi 4,5%. Di satu sisi, penurunan suku bunga acuan ini dipandang akan berdampak positif, karena seiring dengan penurunan suku bunga simpanan, suku bunga kredit pun akan tertekan.

Namun, menengok sebulan ke belakang, harga saham beberapa emiten bank justru mulai turun. Contohnya, saham Bank Central Asia Tbk. (BBCA) turun 0,66%, Bank Danamon Tbk. (BDMN) turun 3,20%, Bank Bank Bukopin Tbk. (BBKP) juga turun 1,64%

Meski demikian, beberapa saham bank lain tetap mengalami kenaikan. Misalnya, Bank Tabungan Negara Tbk. (BBTN) naik 9,09% dan Bank Permata Tbk. (BNLI) naik 2,17%.

Analis OSO Sekuritas Riska Afriani menilai, penurunan harga saham bank dipengaruhi sentimen turunnya pengembalian dana pihak ketiga (DPK). Sementara itu, menurut Riska, penurunan DPK tersebut belum diiringi dengan penurunan suku bunga kredit.

Hal ini menurut dia menimbulkan kekhawatiran bagi pelaku pasar. Memang, Riska tak menampik bahwa salah satu tujuan penurunan suku bunga acuan tersebut adalah untuk meningkatkan pertumbuhan kredit. Jika kredit tumbuh, otomatis performa bank pun naik.

Namun, pada kenyataannya pertumbuhan kredit belum begitu mentereng. Hal ini juga tergambar dari revisi turun target pertumbuhan kredit tahun 2017 oleh BI dari 10%-12% menjadi 8%-10%. Penurunan suku bunga acuan yang tak diimbangi dengan pertumbuhan kredit ini pula yang menurut Riska membuat orang beralih dari deposito ke instrumen lain yang lebih menguntungkan.

“Sebenarnya kan tujuan penurunan suku bunga acuan ini supaya single digit. Sekarang pertumbuhan kredit sejauh mana dengan penurunan suku bunga itu. Karena sekarang kan banyak juga bank yang masih double digit,” tambah Riska, akhir pekan kemarin

Sementara itu, Kepala Riset Paramitra Alfa Sekuritas Kevin Juido melihat harga saham bank sudah dalam keadaan tinggi saat BI menurunkan suku bunga acuan. Sehingga, menurutnya secara teknikal harga saham emiten perbankanakan mengayun ke bawah.

Adapun penurunan suku bunga acuan sendiri, menurut Kevin akan menarik imbasanya bagi bank, dimana volume pergerakan nasabah akan tinggi. Hanya saja, kekhawatiran pelaku pasar muncul karena negosiasi soal relaksasi Loan to Value (LTV) antara bank central dengan beberapa bank lain yang cukup menyita waktu.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help