TribunJambi/

Relationship

Bertemu dan Berkencan secara Online, Saat Bertemu Rasa Itu Menghilang. Apa yang Harus Dilakukan?

Di era teknologi komunikasi yang serba digital ini, kesempatan mempunyai kenalan dan berkomunikasi ikut bergeser secara online.

Bertemu dan Berkencan secara Online, Saat Bertemu Rasa Itu Menghilang. Apa yang Harus Dilakukan?
shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM - Di era teknologi komunikasi yang serba digital ini, kesempatan mempunyai kenalan dan berkomunikasi ikut bergeser secara online. Bahkan tidak sedikit orang mencari pasangan dan berkencan di dunia maya.

Namun tidak sedikit yang kemudian kecewa, saat bertemu ternyata ia tak seperti yang tergambar di dunia maya. Baik tampilan fisik, maupun pembawaan sikapnya. Perasaan berbunga-bunga yang mengisi relung hati sekian lama tiba-tiba berubah datar dan hambar.

Lalu harus bagaimana? Bersikap pura-pura menyukai, melanjutkan dating atau jujur mengatakan kita tidak punya perasaan apa-apa.

Berikut sikap yang ditunjukkan Lila, seorang pengguna netter yang berkenalan dan kencan dengan Connor di dunia maya.

Lila adalah seorang pemasar online berusia 28 tahun. Ia suka mengenakan T-shirt dan celana jeans. Ia kenal dengan Connor, yang menyebut dirinya agak aneh, ramah, dan menyenangkan untuk bersama.

Lila suka menampilkan profilnya saat nongkrong, makan malam, pergi ke pantai, dan bermain game. Dia menyebut dirinya saat ini sangat lajang. "Saya mencari seseorang yang jujur, lucu dan kreatif, dan yang menerima saya dan mencintai saya seperti saya, bukan hanya sebagian diri saya. Saya ingin siapapun yang saya inginkan untuk menjadi orang favorit saya. Tidak ada salahnya kalau dia imut juga."

Mereka mulai melakukan chatting dan penilaian Lila; dia sabar, lucu dan manis. Aku benar-benar tidak sabar untuk bertemu pria yang sudah memberiku alasan untuk tersenyum di pagi hari. Kami merencanakan untuk makan di pusat kota dan mungkin berkeliling lingkungan.

Saat aku duduk di kafe cantik dan trendi yang telah dipilih Connor untuk makan malam, ia berpikir entah mengapa, "Ini dia!" dan "Dia bisa menjadi milik saya".

Bagaimanapun, Connor imut, lajang, dan tertarik padanya. Meskipun pada saat itu ia melihat penampilan yang sangat mendasar. Ia tahu selama ini hanya bertemu secara online, tapi koneksinya terasa nyata.

Pikiran itu benar-benar hancur begitu ia menjatuhkan diri ke meja. Getaran di antara mereka langsung tidak ada. Bahasa tubuh Connor entah bagaimana tegang pada saat bersamaan. Ada yang tidak beres, dan tubuhku memberitahu bahwa tanggalnya sudah berakhir. Meski begitu, aku mencoba melepaskan perasaan tak enak itu.

Halaman
12
Penulis: fifi
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help