TribunJambi/

Ini Beda Orang Kota dan Orang Pedalaman Papua Saat Naik Pesawat Menurut Cerita Pramugari

Seorang pramugari yang tak mau disebutkan namanya sempat bercerita seputar pengalaman berinteraksi dengan penumpang.

Ini Beda Orang Kota dan Orang Pedalaman Papua Saat Naik Pesawat Menurut Cerita Pramugari
BARRY KUSUMA
Festival Danau Sentani 2015 berlangsung 19-23 Juni 2015 dengan menampilkan beragam atraksi kesenian masyarakat sekitar Danau Sentani serta wilayah-wilayah lain di Provinsi Papua. 

TRIBUNJAMBI.COM - Setiap pramugari tentu punya cerita menarik saat terbang dari suatu destinasi ke destinasi lain.

Ada yang kelelahan, ada juga yang mendapatkan pengalaman unik di tempat yang diterbangi.

Seorang pramugari yang tak mau disebutkan namanya sempat bercerita seputar pengalaman berinteraksi dengan penumpang.

Ia berkisah tentang agenda bertugas ke daerah-daerah di Papua.

"Kalau di daerah-daerah kecil, mereka (penumpang) justru lebih patuh dan lebih respect sama kita (pramugari). Saya kebetulan terbang perintis di Papua. Sejauh ini penumpangnya nice sekali," jelasnya saat berbincang dengan KompasTravel, Selasa (6/9/2017).

Menurutnya, warga Papua lebih patuh dibandingkan orang-orang kota yang secara tidak langsung paham akan peraturan penerbangan.

"Pada saat naik pesawat dan lihat tanda sabuk pengaman sudah menyala, mereka benar-benar pakai sabuk pengaman sampai landingdan lampu sabuk pengaman mati. Dulu saya terbang dari base jakarta ke kota-kota besar, kadang pesawat belum berhenti sempurna penumpang sudah berdiri dan langsung buka tempat bagasi. Padahal tanda sabuk pengaman belum padam dan pesawat belum berhenti dengan sempurna," jelasnya.

Pramugari itu menceritakan, di Papua seringkali ia menemukan penumpang pesawat yang sangat patuh. Ia menyebut saat penerbangan di Papua banyak penumpang dari suku pedalaman yang suka naik pesawat.

"Mereka kalau naik pesawat, saking patuhnya, after take off dan (instruksi) fasten seat belt nya off, mereka benar-benar duduk kaku dan pakai sabuk pengaman sampai kenceng banget. Jadi selama pesawat terbang mereka duduk tegang," jelasnya.

Bertemu dengan hal seperti itu, ia kemudian mencairkan suasana agar penumpang tak terlalu kaku. Ia menyapa dan mengajak bercanda para penumpang dari suku pedalaman.

"Cara mencairkan suasananya biasanya saya pada saat service snack. Setelah kasih snack langsung saja ajak ngobrol tanya-tanya mau ke mana atau tanya asalnya dari mana. Mereka rata-rata ramah banget dan happy-nya beda saat kita ajak ngobrol. Mereka antusiasnya tinggi saat kita mau interaksi secara personal sama mereka," ujarnya.

Editor: bandot
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help