TribunJambi/

Lubuk Penyengat Dulunya Semak Belukar, Kini Bikin Komunitas Pemuda Muaro Dano Raih Penghargaan

Keberhasilan Komunitas Pemuda Danau Lamo, menyulap Lahan tidur yang bersemak belukar, menjadi taman wisata nancantik

Lubuk Penyengat Dulunya Semak Belukar, Kini Bikin Komunitas Pemuda Muaro Dano Raih Penghargaan
TRIBUNJAMBI/ZULKIFLI
Sulap lahan tidur bersemak belukar, menjadi destinasi wisata ramah lingkungan, Komunitas Pemuda Muaro Dano, Desa Baru, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muarojambi, raih Penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan tingkat Kabupaten. 

Laporan Wartawan Tribun Jambi Zulkifli

TRIBUNJAMBI.COM, MUAROJAMBI - Keberhasilan Komunitas Pemuda Danau Lamo, menyulap Lahan tidur yang bersemak belukar, menjadi taman wisata nancantik serta Ramah lingkungan yang diberi nama Lubuk Penyengat, mendapat apresiasi dari Pemerintah Kabupaten Muaro Jambi.

Melalui Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD), Pemerintah Kabupan Muaro Jambi, Memberikan penghargaan Kalpataru kategori penyelamat lingkungan, kepada Komunitas tersebut, yang diserahkan langsung oleh Bupati Muarojambi Masna Busyro, pada acara peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Kabupaten Muarojambi, Sabtu (12/8) Kemarin.

Lubuk Penyengat yang kini dikenal khalayak ramai, karena Keelokan sertada kindahanya, kini ramai dikunjungi masyarakat untuk berselfi ria, atau hanya sekedar jalan-jalan melepas lelah dihari libur.

Yang tak kalah menarik iyalah, keberadaan patung berbentuk manusia serta tangan raksasa yang menadah, terbuat dari jerami, menjadi incaran bagi pengunjung untuk berfoto.

Tapi siapa sangka, tempat indah, yang beralamat di Dusun Parit, Rt 03, Desa Baru, Kabupaten Maro sebo tersebut, sebelumnya hanyalah Lahan tidur yang bersemak belukar. Namun dengan kegigihan dab semangat pemuda setempat, tempat tersebut menjadi satu diantara destinasi wisata di Kabupaten MuaroJambi.

Wakil Ketua Komunitas Pemuda Muaro Danau sekaligus pengelola Lubuk Penyengat, saat diwawancarai Tribun menyebutkan, Ia kawan-kawan mulai membuat taman tersebut pada Bulan Februari 2017 lalu. "Kita mengerjakannya secara mandiri dan bergotong royong sesama pemuda setempat, tanpa bantuan biaya dari pihak manapun," sebutnya kepada Tribunjambi, Minggu (13/8).

Selain itu, Sukirman juga menyebutkan, ide untuk menjadikan lahan seluas Setengah hektar menjadi Ikon wisata, di dapat dari seseorang, kemudian mereka kembangkan sendiri secara bersama-sama dengan pemuda lainnya.

"Pembuatannya, kira-kira selama dua bulan, namun hingga sekarang akan kita kembangkan," Tutur Sukirman.

Bahan-bahan pembuatan spot-spot Berfoto, maupun saung-saung dan jembatan di lubuk penyengat tersebut rerata berasal dari pemanfaatan bahan bekas dan limbah.

Halaman
12
Penulis: Zulkifli
Editor: nani
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help