TribunJambi/

VIDEO

VIDEO: Bupati Dedi Larang Sekolah Wajibkan Siswa Miskin Pakai Seragam

Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi melarang sekolah mewajibkan siswa yang kurang mampu di wilayahnya memakai seragam.

VIDEO: Bupati Dedi Larang Sekolah Wajibkan Siswa Miskin Pakai Seragam
(IRWAN NUGRAHA/KOMPAS.com)
Dedi Mulyadi saat mendampingi siswa belajar agama. Selama bulan puasa tahun ini pPara siswa di Purwakarta mendapat pelajaran baca tulis Al Quran dan Kitab Kuning oleh para guru madrasah di setiap wilayahnya. 

TRIBUNJAMBI.COM, PURWAKARTA - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi melarang sekolah mewajibkan siswa yang kurang mampu di wilayahnya memakai seragam.

Kepala sekolah juga diwajibkan melaporkan langsung siswa yang tak pakai seragam tersebut kepada kepala daerah.

"Saya mengeluarkan larangan penggunaan seragam sekolah baik baju maupun sepatu bagi siswa yang tak mampu. Supaya para siswa tak ada alasan dan tak malu untuk pergi ke sekolah. Nanti kepala sekolahnya langsung lapor ke saya dan akan diberikan kelengkapan seragam sekolah bagi mereka melalui sistem gotong-royong yang selama ini terbangun di Purwakarta," jelas Dedi kepada wartawan, Senin (18/7/2017) pagi.

Dedi menambahkan, larangan penggunaan seragam tersebut sebagai langkah antisipasi para siswa supaya tak ada perbedaan antara siswa miskin dan kaya. Apalagi, sejatinya pendidikan bagi anak tak pernah ada pembedaan strata ekonomi seseorang.

"Sebetulnya permasalahan seragam bagi siswa saat akan masuk sekolah menjadi sangat krusial hampir tiap tahunnya. Saya pun mengeluarkan larangan ini agar semua pelajar di Purwakarta bisa mendapatkan hak pendidikannya secara layak tanpa ada sekat kondisi ekonomi," tambah Dedi.

Dedi pun mengimbau kepada seluruh orangtua yang kurang mampu untuk tak malu membiarkan anaknya tak pakai seragam ke sekolah. Pihaknya pun akan langsung membantu menyediakan kelengkapan sekolahnya secara gratis.

"Kepada para orangtua yang tak memiliki kemampuan, biarkan saja anaknya tak pakai seragam ke sekolah. Jangan sampai menghambat anaknya mendapatkan pendidikan gara-gara permasalahan seragam. Terus kata siapa juga mendapatkan pendidikan harus diseragamkan, pakaian itu sebagai pelengkap saja dan yang paling penting mendapatkan pendidikannya," ujarnya.

Upayanya tersebut, tambah Dedi, sebagai penerapan prinsip "Prihatin bagi yang Miskin, Berbagai bagi yang Kaya". Artinya, bersekolah untuk mendapatkan pendidikan dengan kemampuan yang dimilikinya, dan bagi orang kaya jangan pamer saat berada di sekolah ketika mengantar anak-anaknya.

Dedi pun tak sedikit menemui warganya yang mengaku sebagai orang tak mampu, padahal kenyataannya berkecukupan.

Menurut Dedi, pelajar zaman dulu sudah terbiasa membantu orangtuanya terlebih dahulu bekerja seperti ke pasar dan ke sawah baru berangkat ke sekolah dan tak pernah ada perasaan malu.

"Beberapa kali saya ditemui oleh orangtua yang mengaku tak mampu membeli seragam untuk anaknya padahal dia menghadap ke sayanya memakai perhiasan gede. Siswa di negara maju saja seperti Jepang, siswa kaya dan berada, tak malu pakai kendaraan umum dan berjalan kaki," tandasnya.

Survei Elektabilitas Jelang Pilkada Jabar 2018(Kompas TV)

Berita ini sudah tayang di laman Kompas.com, Senin (17/7) pukul 12.13 WIB: Bupati Dedi Larang Sekolah Wajibkan Siswa Miskin Pakai Seragam

 

 
 

Editor: fifi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help