TribunJambi/

VIDEO

VIDEO: Ramai-ramai Tolak Hak Angket terhadap KPK. . .

Dalam sepekan terakhir, suasana di Gedung merah putih KPK selalu lebih ramai dari biasanya. Masyarakat dari berbagai elemen

VIDEO: Ramai-ramai Tolak Hak Angket terhadap KPK. . .
(KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNG)
Grup band Slank membawakan lagu dalam aksi dukung KPK di Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta, Kamis (13/7/2017). Aksi dukung KPK ini dihadiri oleh Masyarakat sipil antikorupsi, Akademisi, Seniman, Budayawan, Pemuka Agama, Mahasiswa dan mereka menyuarakan penolakan terhadap hak angket KPK. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Dalam sepekan terakhir, suasana di Gedung merah putih KPK selalu lebih ramai dari biasanya. Masyarakat dari berbagai elemen berlomba memberikan dukungan terhadap KPK.

Tak hanya melalui audiensi kepada pimpinan dan pegawai KPK, sebagian dari masyarakat sipil menunjukkan kepeduliannya lewat aksi.

"Maling-maling kecil dihakimi, maling-maling besar dilindungi", begitu salah satu lirik lagu yang dibawakan band punk Marjinal di depan Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jumat (14/7/2017) malam.

Marjinal menjadi salah satu bagian masyarakat sipil yang menyuarakan harapan agar Indonesia bebas dari korupsi. Bersama para aktivis antikorupsi, tokoh agama dan anggota dari beragam komunitas, Marjinal menyerukan penolakan hak angket DPR yang digulirkan terhadap KPK.

"Tolak hak angket," ujar Mike, vokalis Marjinal.

Para personel grup band Slank bertemu dengan pimpinan KPK di Gedung KPK, Kamis (13/7/2017).

Slank hadir di KPK dalam rangka menggelar mini konser bertema "Jurus Tandur, Maju Terus Pantang Mundur Menolak Hak Angket". Vokalis Slank, Kaka, menyatakan bahwa Slank tak ingin ada pihak yang mau melemahkan KPK.

"Sesuai temanya sore hari ini mini konser maju terus pantang mundur kita, Slank, 100 persen suport KPK maju terus pantang mudur, enggak boleh ada yang melemahkan," ujar Kaka.

Sementara itu, Bimbim mengatakan, lembaga KPK merupakan suatu harapan dan mimpi bagi bangsa ini. Jika harapan dan mimpi itu dihilangkan, bisa berdampak pada bangsa.

"Kami anggap 'KPK hope' (dan) mimpi (dari) suatu kumpulan, suatu kelompok, suatu bangsa. Kalau mimpinya dihilangkan, bisa bubar. Jadi hari ini datang supaya meyakinkan diri dan teman-teman di KPK harapan ini jangan hilang," ujar Bimbim.

Halaman
123
Editor: fifi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help