TribunJambi/
Home »

Bisnis

» Makro

Harga Minyak Dunia

Ramalan Raja Komoditas Wall Street tentang Minyak

Harga minyak mentah dunia masih meluncur untuk pekan kelima, dan menuju penurunan terburuk 6 bulan dalam 20 tahun terakhir.

Ramalan Raja Komoditas Wall Street tentang Minyak
Antara Foto/Muhammad Adimaja

TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Harga minyak mentah dunia masih meluncur untuk pekan kelima, dan menuju penurunan terburuk 6 bulan dalam 20 tahun terakhir. Namun, belum terlihat tanda-tanda titik bawah terkuat bagi harga minyak untuk memantul kembali. 

Harga minyak saat ini telah terporosok di kisaran US$ 42 per barel. Sekadar mengingatkan, komoditas yang pernah menyandang gelar emas hitam ini pernah menyentuh harga US$ 108 per barel pada Juni 2104 dan membentur US$ 27 pada awal 2016. 

Dennis Gartman, editor dan pendiri Gartman Letter melihat, penderitaanharga minyak mentah masih akan terus berlanjt. Gartman yang dikenal Wall Street sebagai Raja Komoditas ini juga mengatakan, OPEC telah kalah dalam perang mempertahankan harga minyak, terutama setelah Raja Salman mengganti Putra Mahkota menjadi Mohammad bin Salman, seorang pangeran yang pro diversifikasi ekonomi selain minyak. 

"Dia tahu, minyak dalam waktu 20-40 tahun akan menjadi komoditas tak berharga, maka dia mencari yang lain," kata Gartman pada CNBC, Sabtu (24/6).

Setelah penurunan dalam, Gartman meramal akan ada pembalikan harga ke kisaran US$ 46 per barel dalam waktu dekat. "Saya bertaruh dalam 2 minggu, akan ada pembalikan harga," katanya.

Hal itu wajar karena kemerosotan harga minyak terus-menerus, pasar akan mencari harga fundamental, sehingga mendorong pantulan harga. Tapi sejatinya, harga minyak masih jauh untuk keluar dari jalur bearish. 

"Harga minyak masih menuju penurunan harga lebih dalam," katanya.  

Gartman tak sendirian lantaran mayoritas ekonom di Wall Street juga tak melihat tanda-tanda pemulihan harga minyak mentah dalam waktu dekat. Dalam risetnya Jumat lalu (23/6), Bank of America-Merrill Lynch melihat, permintaan minyak di pasar tak cukup untuk menggerus pasokan berlimpah.

Meski begitu, Gartman menyebut, ketika perusahaan minyak menderita, harga minyak yang lebih rendah akan menguntungkan bagi ekonomi secara keseluruhan. "Harga minyak mungkin menjadi 'angsa hitam' bagi industrinya sendiri, tapi menjadi 'angsa putih' bagi ekonomi secara keseluruhan," katanya.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help