TribunJambi/

Lagi, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen

Bank Indonesia (BI) dalam rapat dewan gubernur (RDG) yang digelar 17 dan 18 Mei 2017 memutuskan untuk kembali

Lagi, BI Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen
KONTAN/FRANSISKUS SIMBOLON

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Bank Indonesia (BI) dalam rapat dewan gubernur (RDG) yang digelar 17 dan 18 Mei 2017 memutuskan untuk kembali mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (RRR) di level 4,75%. BI juga mempertahankan suku bunga deposit facility di level 4% dan lending facility di level 5,5%.

Bulan ini, menjadi bulan ketujuh bagi bank sentral menahan suku bunga acuannya. Terakhir kali, BI 7 Day Reverse Repo Rate mengalami perubahan pada 20 Oktober 2016, turun dari 5% menjadi 5,75%.

"Keputusan tersebut konsisten dengan upaya BI dalam menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan dengan tetap mendorong berlanjutnya proses pemulihan perekonomian domestik," kata Gubernur BI Agus Martowardojo, Kamis (18/5).

Agus menyatakan, perekonomian global diperkirakan membaik yang ditopang oleh ekonomi Amerika Serikat yang didukung oleh konsumsi yang solid dan peningkatan investasi nonresidensial; ekonomi China karena meningkatnya investasi swasta dan perbaikan ekspor; ekonomi Eropa karena meningkatnya kinerja manufaktur sejalan dengan perbaikan konsumsi dan ekspor dan menurunnya risiko geopolitik pasca pemilihan Presiden Prancis; dan Ekonomi Jepang karena kenaikan permintaan domestik dan ekspor di negara tersebut.

Namun, bank sentral melihat masih adanya risiko yang datang dari global, yaitu rencana kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed). "Fed Fund Rate kemungkinan besar akan naik di Juni dan hasil kajian kami mungkin yang Desember bisa dipercepat jadi September," tambah Agus.

Selain itu, pihaknya juga masih mengkaji kebijakan fiskal dan perdagangan yang akan diambil AS yang bisa berpengaruh ke dunia, wacana penurunan besaran neraca The Fed, dan risiko geopolitik yang terjadi di beberapa kawasan, khususnya di Semenanjung Korea.

Sementara risiko yang datang dari domestik, yaitu terkait dengan penyesuaian administered prices dan dampaknya terhadap inflasi nasional di tahun ini. Bank Sentral juga mencermati risiko karena masih berlanjutnya konsolidasi korporasi dan perbankan.

"Maka BI senantiasa mengoptimalkan bauran kebijakan moneter, makroprudensial dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kami melanjutkan koordinasi dengan pemerintah fokus jaga inflasi agar tetap berada pada kisaran sasaran dan melanjutkan program reformasi struktural untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan," tambahnya.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help