TribunJambi/

Bidan Ati Menginspirasi Istri Bill Gates

Ati juga beberapa kali dia terjatuh dari sepeda motor di jalan beraspal. Semua itu dia sampaikan kepada Melinda Gates sebagai co-chair...

Bidan Ati Menginspirasi Istri Bill Gates
Dok/Melinda Gates 

TRIBUNJAMBI.COM - Sebagai bidan yang pernah ditugaskan untuk memberikan jasa kesehatan di wilayah pelosok di Indonesia, perjalanan Ati Pujiastuti sering kali sangat menyiksa, terutama saat musim hujan. Pernah dia tergelincir di jalan berlumpur yang tak jauh dari tepi tebing. Pernah juga dia kehilangan pijakannya saat menyeberangi sungai yang deras dan harus berpegangan pada sebuah batu besar sampai bantuan datang.

Ati juga beberapa kali dia terjatuh dari sepeda motor di jalan beraspal. Semua itu dia sampaikan kepada Melinda Gates sebagai co-chair The Bill & Melinda Gates Foundation dengan wajah yang tetap berseri, saat dia melanjutkan cerita bahwa tidak ada bidan lain yang berhasil bertahan ditugaskan di wilayah ini selama kurun waktu yang dirinya jalani.

Melinda sempat menyambangi Indonesia pada 21-24 Maret 2017 silam. Salah satu alasan kunjungannya adalah karena tertarik mempelajari keberhasilan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Salah satu agendanya adalah bertemu dengan Ati di Yogyakarta.

Ati melanjutkan ceritanya kepada Melinda yang diterbitkan di blog medium.com. Pertama kali tiba di desa terpencil tersebut, malaria sedang merajalela. Namun tidak ada fasilitas kesehatan di sana. Warga di daerah tersebut masih sulit menerima orang asing yang bukan berasal dari daerah mereka. Tapi hanya butuh beberapa tahun, Ati berhasil mendapatkan kepercayaan masyarakat dan menjadi bagian penting dalam kehidupan warga di desa tersebut. Ati tak mampu membendung air mata yang membasahi matanya saat dia harus mengucapkan selamat tinggal kepada warga desa untuk pindah tugas ke daerah lain.

Bagian yang paling luar biasa dari cerita Ati yang disampaikan adalah, semua pengalaman tersebut seperti biasa saja. Kondisi masyarakat dunia tampak jauh lebih sehat daripada sebelumnya. Sebagian besar disebabkan oleh ratusan ribu pekerja kesehatan di garis depan yang begitu bersikeras berpikir bahwa tidak ada tempat di bumi ini yang terlalu miskin, terlalu jauh, atau terlalu berbahaya untuk dijangkau untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Di Indonesia dan di seluruh bagian dunia lain, petugas kesehatan seperti Ati telah membantu mengurangi tingkat kematian ibu melahirkan dan secara dramatis mengurangi jumlah anak yang meninggal sebelum ulang tahun kelima mereka. Menurut perkiraan terbaru, sekitar 81% anak-anak Indonesia sudah sekarang di vaksinasi terhadap sejumlah penyakit paling mematikan di masa anak-anak.

Tapi di Indonesia, seperti di banyak negara berkembang, kemajuannya tidak merata. Dan sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kemajuan tersebut, petugas kesehatan sekarang berfokus pada salah satu cara paling efektif untuk meningkatkan fasilitas kesehatan bagi perempuan dan anak-anak: memperluas akses terhadap alat kontrasepsi.

Meskipun jumlah wanita Indonesia yang menggunakan alat keluarga berencana telah meroket dari 1 dari 10 pada tahun 1950 menjadi saat ini sekitar 1 dari 2, namun masih ada jutaan perempuan di Indonesia yang tidak memiliki akses, informasi, atau pilihan yang sesuai dengan kebutuhan kontrasepsi mereka.

Di akhir perjalanan Nyonya Gates di Indonesia, dia bertutur dalam tulisannya bahwa dirinya bertemu dengan tiga wanita hamil yang mengakui bahwa sebenarnya tidak menginginkan kehamilan tersebut.

Ati, bertekad menjadi bagian dari solusi tersebut. Saat ini, dia mengelola sebuah klinik kecil di dekat Yogyakarta. Ati memberikan perawatan pra melahirkan, persalinan, memberi vaksin kepada bayi, dan konseling perempuan tentang kontrasepsi.

Ketika Gates mengunjunginya di klinik, Ati mengatakan baru saja menerima sertifikasi khusus yang memungkinkannya untuk memasukkan dua bentuk alat kontrasepsi tahan lama: IUD dan implan. Banyak wanita di Indonesia - dan di seluruh dunia - lebih memilih metode kerja lama ini karena ini adalah cara murah dan efisien untuk mencegah kehamilan tanpa bergantung pada klinik atau apotek untuk suntikan atau pil setiap hari.

Ati memperkenalkan alat kontrasepsi dengan memberikan secara cuma-cuma untuk penggunaan pertama pada pasiennya. Hanya saja, dia meminta si pasien untuk memberi tahu teman-temannya. Di balik insting kewirausahaannya, Ati tetap membuka tangannya lebar-lebar bagi setiap perempuan yang tidak sanggup membayar jasanya.

Bagi Ati, menjadi bidan lebih dari sekadar karier. Ini adalah panggilan. (Rizki Caturini)

Editor: duanto
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help