TribunJambi/

Penjual Batagor di Surabaya Ditransfer Uang Rp 2 Juta Karena Curhat

Dia mengaku telah tiga tahun berjualan batagor di Surabaya dan tak bisa pulang ke kampung halamannya karena tak memiliki uang untuk mudik.

Penjual Batagor di Surabaya Ditransfer Uang Rp 2 Juta Karena Curhat
Bupati Purwakarta meresmikan toko busana muslim milik Sri Astati Nursani (32), Ibu dari bocah penderita tulang rapuh, Muhammad Fahri Asidiq (11), Jumat (21/4/2017).(KOMPAS.com/Putra Prima Perdana) 

TRIBUNJAMBI.COM - Iip (30), warga Desa Werasari, Kecamatan Malausma, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mengirim pesan singkat ke call center Dedi Mulyadi yang dilihatnya di akunFacebook milik temannya, Senin (24/4/2017) sore.

Dia mengaku telah tiga tahun berjualan batagor di Surabaya dan tak bisa pulang ke kampung halamannya karena tak memiliki uang untuk mudik.

"Saya nekat saja SMS nomor telepon Pak Dedi di Facebook yang dilihat di HP teman saya. Saya curhat sudah tiga tahun di daerah orang lain jualan batagor terus tak punya uang, dan saya minta bantuan ingin pulang ke Majalengka," kata Iip saat dihubungi melalui telepon.

Iip mengatakan, awalnya dia ke Surabaya ikut tetangganya yang sama-sama berjualan batagor. Namun, tak berselang setahun, ternyata tetangganya sudah pulang kembali ke kampung mereka tanpa bilang-bilang.

Iip pun bertahan di Surabaya dan tetap berjualan batagor milik orang lain. Tiap hari, dia mengaku hanya mendapat bagian keuntungan Rp 50.000.

"Paling besar sehari saya dapat lima puluh ribu, tapi seringnya saya malah tidak dapat bagian untung karena jualannya kurang laku," ujar dia.

Keuntungan hasil jerih payah berjualan batagor hanya bisa menutupi kebutuhan sehari-harinya selama di Surabaya.

Selama ini, dia tinggal di sebuah rumah kontrakan dengan luas 2x2 meter persegi di dekat Rumah Sakit dr Soetomo, dengan harga sewa Rp 300.000 per bulan.

"Saya di sini setelah sebatangkara, tak ada kenalan dan saudara, ngontrak rumah sewa dua meter dengan harganya Rp 300.000 per bulan. Saya bingung ingin pulang ke mamah di Majalengka. Soalnya mamah hanya punya anak saya saja dan bapak sudah kawin lagi dengan orang lain. Makanya saya nekat kirim SMS ke Pak Dedi," kata Iip.

Tak disangka Iip, pesan singkat yang dikirimnya langsung dibalas Dedi. Iip mendapat informasi bahwa Dedi akan membantu dan mengirimkan uang Rp 2 juta untuknya.

Balasan tersebut disambutnya dengan kegembiraan karena dia akan segera bertemu ibunya yang tinggal seorang diri di Majalengka.

"Saya langsung senang Pak, tadi sudah dikirim. Tolong katakan ke Pak Dedi terima kasih dari saya. Saya akhirnya bisa bertemu mamah. Kasihan mamah sendirian di Majalengka," kata dia.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi membenarkan hal itu. Setelah mendapatkan pesan singkat dari pemuda asalMajalengka tersebut, dia langsung mengirimkan uang untuk ongkos dan bantuan usaha di kampungnya.

Program itu sering disebut "Saku" yakni satu keluarga satu jenis usaha. Sehingga daripada merantau ke luar daerah tanpa belum ada kejelasan, sebaiknya berusaha di kampung halaman dan memanfaatkan potensi di daerahnya.

"Saya tadi memberikan bantuan Rp 2 juta untuk Iip. Bantuan itu adalah gagasan melalui program satu keluarga satu jenis usaha atau disebut Saku," kata Dedi.

Editor: awang
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help