Ini Kisah Kartini yang Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun

Kematian Kartini yang mendadak pada tanggal 17 september 1904, empat hari setelah melahirkan putera laki-lakinya mengejutkan banyak pihak.

Ini Kisah Kartini yang Tak Ingin Hidup Lebih dari 25 Tahun
Wikipedia
Repro negatif potret Raden Ajeng Kartini (foto 1890-an) 

TRIBUNJAMBI.COM - Kematian Kartini yang mendadak pada tanggal 17 september 1904, empat hari setelah melahirkan putera laki-lakinya mengejutkan banyak pihak. Sabahat dan kerabat tidak menyangkaKartini pergi begitu cepat.

Suaminya, RM Djojo Adiningrat tak kuasa menahan sedih dan sangat terpukul, perasaannya ini dengan nyata ia ungkapkan dalam suratnya kepada Nyonya Abendanon, sahabat sekaligus wanita yang dianggap ibu oleh Kartini.

“Dengan halus dan tenang ia menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam pelukan saya, lima menit sebelum hilangnya (meninggal) pikirannya masih utuh, dan sampai saat terakhir ia masih sadar. Dalam segala gagasan dan usahanya, ia adalah lambang cinta dan pandangannya dalam hidup demikian luasnya. Jenasahnya saya tanam keesokan harinya di halaman pasanggrahan kami di Bulu, 13 pal dari kota,” tulis Djojo Adiningrat seperti di kutip dari buku " Kartini: Sebuah Biografi" yang ditulis oleh Sitisoemandari Soerto.

Kabar mengenai kematian Kartini kemudian tersiar dalam Koran De Java bode hari Senin, 19 September 1904, dalam sebuah ‘in memoriam’ yang menceritakan riwayat hidup Kartini.

“Suatu kehilangan yang susah digantikan oleh mereka yang akan berusaha mengikuti jejaknya,” tulis Koran itu.

Kartini sendiri semasa hidupnya seperti sudah punya firasat kalau hidupnya tak akan lama. Ia sempat ‘berpamitan’ kepada orang-orang terdekatnya.

Saat berkirim surat kepada kepada Nyonya Abendanon tertanggal 10 Agustus, Kartini mengatakan jika surat yang ia tulis merupakan surat terakhir.

Tanda-tanda itu juga ia sampaikan sendiri kepada adiknya. Roekmini  menceritakan bagaimana kakaknya yakin jika ia akan meninggal di usia muda dalam suratnya kepada Nellie van Kol pada tanggal 21 Juni 1905.

“Tak kala masih gadis dan masih berkumpul, Ayunda sering bilang bahwa ia tak mau hidup lebih lama dari 25 tahun,”

Waktu mengandung Kartini juga berulang kali menulis kepada Roekmini, memintanya untuk merawat anaknya jika ia tidak dapat merawat lagi.

Halaman
12
Editor: rahimin
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help