EDITORIAL

HET di Ritel Modern

Tahun ini, pemerintah berusaha menekan kenaikan harga dengan cara penerapan harga eceran tertinggi (HET) beberapa bahan pokok yang berlaku....

KENAIKAN harga sembilan bahan pokok (sembako) menjelang bulan puasa dan lebaran, menjadi masalah berulang setiap tahun. Tahun ini, pemerintah berusaha menekan kenaikan harga dengan cara penerapan harga eceran tertinggi (HET) beberapa bahan pokok yang berlaku 10 April 2017-10 September 2017. Harga itu berlaku di ritel-ritel modern.

Telah ada penandatanganan nota kesepahaman (memorandum of understanding) untuk mengantisipasi lonjakan harga. Penandatangan kesepakatan penetapan harga serentak ritel modern itu antara lain Asosiasi Ritel Indonesia (Aprindo), distributor gula, Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Asosiasi Industri Minyak Makanan Indonesia (AIMMI), Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI). HET itu berlaku untuk tiga komoditas.

Dalam kunjungan kerja ke Jambi, Staf Ahli Bidang Iklim Usaha dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Perdagangan, Suhanto, mengatakan itu merupakan langkah konkret kementerian dalam mengimplementasikan arahan Presiden. Pemerintah berusaha menciptakan suasana kondusif, bidang perdagangan dan perekonomian menjelang puasa dan Lebaran.

Beberapa item yang masuk HET di MoU itu, gula pasir Rp 12.500 per kilogram, minyak goreng kemasan sederhana Rp 11.000 per liter, daging beku Rp 80.000 per kilogram. Dengan HET, diharapkan ritel modern menjadi price leader.

Bagaimana dengan pasar tradisional yang notabene antitesis pasar modern? Apakah nanti ada jaminan tidak terjadi lonjakan harga?

Sampai saat ini, mengingat tingkat harga ditentukan mekanisme pasar, masih sangat terbuka peluang terjadi lonjakan harga. Apalagi, ritel modern bukanlah pasar yang mendominasi perputaran uang dan barang di Jambi. Di sini ada ribuan ceruk dan pasokan pasar yang dibentuk sistem, berbeda dengan ritel modern yang bisa dilakukan pengontrolan.

Mekanisme pasar merupakan proses penentuan tingkat harga berdasarkan kekuatan permintaan dan penawaran. Ada banyak pemasok, pedagang dan pembeli yang masuk dalam sistem ini. Kecenderungan ini sangat memungkinkan terjadi lonjakan harga.

Sekadar berkaca dari fenomena tahun-tahun sebelumnya, kenaikan harga selalu terjadi menjelang bulan puasa, dan lebaran. Kondisi itu saat tingkat konsumsi masyarakat tinggi dan linier dengan pengeluaran.

Meski Kementerian Perdagangan memastikan harga dan stok barang bahan pokok di Jambi stabil hingga lebaran, pemerintah daerah juga musti mengambil langkah antisipasi. Terutama pemain-pemain yang mengambil celah keuntungan di momentum itu. Pengendalian persediaan, distribusi dan kontrol jelang, saat dan pasca puasa-lebaran.(*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help