TribunJambi/

Bukan Guru Apalagi Dokter, Inilah Jawaban Kartini Kecil ketika Ditanya tentang Cita-cita

TRIBUNJAMBI.COM - Saat masih kecil, kita kerap mendapatkan pertanyaan, “Apa cita-citamu?” Lalu di antaranya

Bukan Guru Apalagi Dokter, Inilah Jawaban Kartini Kecil ketika Ditanya tentang Cita-cita
net
Raden Ajeng Kartini

Bukan Guru Apalagi Dokter, Inilah Jawaban Kartini Kecil ketika Ditanya tentang Cita-cita

TRIBUNJAMBI.COM - Saat masih kecil, kita kerap mendapatkan pertanyaan, “Apa cita-citamu?” Lalu di antaranya kita ada yang menjawab: ingin seperti Raden Ajeng Kartini. Tapi tahukah kita apa jawaban Kartini kecil ketika ditanya tentang cita-cita?

Untuk tahu jawabannya, ada baiknya kita membaca surat Kartini kepada Nyonya Abendanon yang dikirim pada Agustus 1900 ini.

“…Saat itu adalah waktu bermain-main di Sekolah Belanda di sebuah tempat kecil di Jepara.

Di bawah pohon-pohon waru berbunga kuning di halaman sekolah, gadis-gadis besar dan kecil berkelompok-kelompok tak beraturan menciptakan suasana gembira akrab di atas permadani rumput hijau yang empuk halus. Panas sekali, tak ada seorang pun mau bermain-main.

‘Ayolah Letsy, ceritakan atau bacakan sesuatu,’ buku gadis berkulit coklat, yang tidak hanya karena warna kulitnya, tapi juga karena pakaiannya menunjukkan gadis Bumiputra.

Seorang gadis berambut pirang, besar, yang dengan malas bersandar pada batang pohon dan asyik membaca buku mengangkat kepalanya dan berkata: ‘Ah, tidak, saya masih harus menghafalkan pelajaran prancis saya.’

‘Itu kan dapat kam

Bukan Guru Apalagi Dokter, Inilah Jawaban Kartini Kecil ketika Ditanya tentang Cita-cita
Jumat, 21 April 2017 13:30 WIB
Kartini | kompas.com
Anak kecil Jawa itu menggelengkan kepalanya dan berkata pendek tegas: ‘Tidak tahu.’

Tidak, ia sungguh-sungguh tidak tahu. Ia tidak pernah memikirkan hal itu. Ia masih muda sekali dan menikmati betul hidup gembira anak kecil. Pertanyaan temannya yang berkulit putih itu sebenarnya meninggalkan kesan yang dalam padanya.

Pertanyaan itu membuatnya gelisah, tak henti-hentinya ia mendengar suatu dengung dalam telinganya: ‘Kamu kelak ingin jadi apa?’ Ia berpikir dan merenungkan sampai kepalanya yang kecil itu menjadi lelah.

Halaman
123
Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help