TribunJambi/
Home »

Bisnis

» Makro

Morgan Stanley Bisa Jadi Raja Baru Wall Street

Goldman Sachs mungkin saja memiliki Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, mantan COO Gary Cohn dan beberapa dukungan

Morgan Stanley Bisa Jadi Raja Baru Wall Street
NBC News

TRIBUNJAMBI.COM, NEW YORK - Goldman Sachs mungkin saja memiliki Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, mantan COO Gary Cohn dan beberapa dukungan lain dalam pemerintahan Donald Trump.

Namun, meskipun Goldman Sachs memiliki dukungan kuat di Washington, namun perusahaan ini tidak terlalu dikenal oleh beberapa pihak. Banyak yang menilai, perusahaan yang sempat dijuluki sebagai Vampire Squid di Wall Street ini kalah bersaing dengan pesaing utamanya: Morgan Stanley.

Sekadar informasi saja, pada Rabu (19/4), harga saham Morgan Stanleymelonjak 3% atas sokongan kenaikan laba dan pendapatan trading pada kuartal pertama. Kinerja Morgan Stanley yang ciamik ini dirilis sehari setelahGoldman Sachs melaporkan kinerja yang mengecewakan kepada Wall Street, sehingga menyebabkan harga sahamnya anjlok 5%.

Sementara, sejumlah bank besar AS lainnya seperti Bank of America dan JPMorgan Chase, juga melaporkan kinerja yang solid di kuartal pertama.

Melihat laporan keuangannya, Morgan Stanley mencatatkan kinerja yang baik, khususnya pada unit transaksi obligasi. Pendapatan dari trading fixed incomenaik hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Direktur dan CEO Morgan Stanley James Gorman mengatakan, kinerja kali ini merupakan salah satu kinerja kuartalan terbaik Morgan Stanley dalam beberapa tahun terakhir. Pihaknya tetap optimistis dengan kinerja perusahaan ke depannya kendati situasi ekonomi masih diliputi ketidakpastian.

Sayangnya, Gorman tidak merinci lebih jauh maksud dari ketidakpastian yang dia utarakan. Namun, kecemasan mengenai kemampuan pemerintahan Trump untuk mendorong anggaran belanja dan reformasi pajak berpotensi memberatkan kinerja Morgan Stanley dan bank-bank AS lainnya.

Sebelumnya, Trump telah meminta Kongres untuk membatalkan sejumlah undang-undang reformasi finansial yang diusulkan Dodd-Frank. Hal ini memicu ketidakpastian lain apakah hal tersebut bisa segera diselesaikan dalam waktu dekat. Alhasil, banyak saham perbankan yang merosot tajam dari posisi tertinggi pasca pemilu.

Meski demikian, Gorman masih meyakini perubahan yang dilakukan masih akan mengacu pada Dodd-Frank.

Di sisi lain, guncangan yang terjadi di Eropa -yakni terkait Brexit dan pemilu Prancis- juga membuat investor cemas.

Halaman
12
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help