Menulis Pesan dari Candi, Penjaga Warisan Sejarah Budha di Muarojambi

Sebuah sanggar dari kayu papan dibiarkan kusam tanpa warna cat. Di dalamnya ada peta Desa Muarojambi juga piala penghargaan.

Menulis Pesan dari Candi, Penjaga Warisan Sejarah Budha di Muarojambi
Tribun Jambi/Teguh Suprayitno
Mukhtar sedang belajar bersama anak-anak Sekolah Alam Raya Muaro Jambi, Minggu (9/4) 

Sebuah sanggar dari kayu papan dibiarkan kusam tanpa warna cat. Di dalamnya ada peta Desa Muarojambi juga piala penghargaan. Beberapa topeng kreasi mirip sesosok hantu tergantung di dinding.

MINGGU (9/4) pagi itu, sanggar ramai sorak sorai anak-anak kampung. Puluhan anak usia sekolah dasar berkumpul di sanggar yang berukuran tak lebih besar dari sebuah kamar kebanyakan. Di sana, anak-anak belajar tentang sejarah tempat kelahirannya. Sekolah Alam Raya Muaro Jambi, nama sanggar itu.

Mukhtar Hadi, sarjana hukum syariah Islam dari IAIN Sulthan Thaha Saefuddin, merupakan orang di balik ramainya sanggar kecil di pinggiran Sungai Batanghari itu. Sejak lulus pada 2008, dia tekun mempelajari sejarah Percandian Muarajambi.

Muarajambi merupakan bagian dari sejarah besar perkembangan Budhisme di abad ke-7. Ada ribuan biksu belajar bahasa Sansekerta, sebelum bertolak ke India. Puluhan bangunan suci masih terkubur rapat dalam tanah, hanya hitungan jari yang telah diekskavasi. "Sejarah ini mempunyai arti besar yang harus dijaga," kata Mukhtar.

Sejak SC Crooke, seorang kebangsaan Inggris, mendapati kompleks Percandian Muarajambi pada 1820, nama itu mulai umum didengar dan dianggap penting. Pemerintah Indonesia menetapkan wilayah itu menjadi daerah Cagar Budaya Nasional, melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 259/M/2013 pada 30 Desember 2013. Itu dalam jangka 193 tahun usai kedatangan Crooke. Luas wilayah percandian mencapai 3.981 hektare.

"Kita dilahirkan di tempat sejarah. Saya tidak ingin mereka lupa atau tidak tahu tentang sejarah tempat mereka (anak-anak) dilahirkan dan dibesarkan," kata Mukhtar.

Ucapan Mukhtar itu mengandung kehawatiran seorang putra daerah akan sejarah besar tanah lahirnya. Dengan alasan itu, dia menggagas Sekolah Alam Raya Muaro Jambi. Sanggar yang dulunya adalah toko kelontong, diubah menjadi tempat belajar, hingga pada 28 Februari 2010, Sekolah Alam Raya resmi berdiri.

Sekolah yang berumur tujuh tahun itu tak seperti sekolah formal pada umumnya, karena setiap hari Minggu, sekolah dimulai. Anak-anak dibiarkan berpakaian bebas, tanpa harus berseragam dan bersepatu hitam. Mereka belajar di alam bebas, langsung bersentuhan dengan objek belajarnya.

Suara anak-anak

Selanjutnya, Mukhtar memberi tugas menggambar sebuah candi yang baru saja mereka kunjungi. Siswa Sekolah Alam Raya juga diminta menuliskan pesan di bawahnya.

Halaman
123
Penulis: Teguh Suprayitno
Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help