EDITORIAL

Damai Pasca Pilkada

FASE pencoblosan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta Rabu (19/4) berakhir sudah. Dalam waktu beberapa jam setelah TPS ditutu...

FASE pencoblosan pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta Rabu (19/4) berakhir sudah. Dalam waktu beberapa jam setelah TPS ditutup, calon pasangan unggul melalui hasil hitung cepat sudah disebutkan.

Hasil perolehan suara dari empat lembaga quick count menunjukkan calon nomor dua Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat kalah suara dari pasangan calon nomor tiga Anis Baswedan-Sandiaga Uno. Dari Litbang Kompas misalnya, komposisi perolehan suara masing-masing 42-58 persen. Lalu, PolMark Indonesia 42,44-57,56 persen, LSI Denny JA 42,33-57,67 persen, dan SMRC 41,94-58,06 persen.

Tentu hasil quick count hanyalah gambaran dari sampel yang diambil di lapangan. Hasil resmi masih harus menunggu penetapan dari KPUD DKI Jakarta sekitar awal Mei mendatang.

Secara umum, pilkada Jakarta kemarin berlangsung cukup lancar. Kekhawatiran berbagai pihak atas kemungkinan-kemungkinan yang tak diinginkan tak terjadi.

Hari pencoblosan kemarin semoga saja menjadi akhir dari riuh rendah atas apa yang terjadi di ibukota negara.

Kita berharap Jakarta kembali damai pasca pilkada ini.

Hingga fase hari tenang, kita dipaksa untuk menyaksikan suatu proses pilkada yang sangat ketat. Persaingan menjaring suara semakin intens dan panas atas faktor media sosial. Unggah dan sharing konten di media sosial melalui imbauan sampai intimidasi mewarnai hari-hari kita.

Konten-konten ini menimbulkan kekhawatiran hingga rasa waswas seakan Jakarta menghadapi bisul yang akan pecah, dan menyakiti yang ada di sekitarnya.

Kita menjadi saksi tensi politik yang naik dan terus naik tinggi sejak 7-8 bulan terakhir. Hingga hari-hari terakhir, perasaan warga Jakarta dikepung ketegangan menjadi-jadi atas berbagai upaya meriuhkan Jakarta melalui dukungan politik dan relijiusitas warga.

Ketegangan pilkada Jakarta, yang harus diakui sedikit banyak telah memecah belah hubungan antara keluarga dan masyarakat delapan bulan terakhir, bukan cuma milik Jakarta. Ini sudah memengaruhi kita yang ada jauh dari ibukota. Sekali lagi, faktor media sosial menjadi satu kuncinya.

Tapi Rabu kemarin, pilkada sudah berlangsung. Kita sudah menyaksikan siapa calon yang unggul dan tertinggal dalam hitung cepat. Selebrasi kemenangan yang masih wajar dipertontonkan Anis-Sandi dan timnya. Begitupun kebesaran jiwa yang dengan legowo menerima kekalahan ditunjukkan Basuki-Djarot.

Kesediaan Anis-Sandi untuk berekonsiliasi dengan Basuki-Djarot adalah langkah awal yang akan mendinginkan suasana Jakarta. Kita tidak dapat menafikkan kinerja Basuki-Djarot selama ini. Basuki-Djarot pun mengajak pendukung, simpatisan yang kecewa untuk tetap menjadi Jakarta yang damai.

Ya, kita berharap perasaan damai kembali bersemi di Jakarta pasca pilkada. Karena, Jakarta adalah wakil dari masyarakat Indonesia. Kita tidak ingin riuh rendah politik, ketegangan dan perpecahan yang sempat terjadi seolah-olah gambaran bahwa inilah masyarakat Indonesia.

Kita ingin tetap damai menyelimuti seluruh negeri. Karena sejatinya, yang menang adalah masyarakat Jakarta. Jabatan gubernur dan wakil gubernur yang diperebutkan adalah sebagai pelayan masyarakat. Warga Jakarta jualah yang menjadi tuan rumahnya. (*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help