TribunJambi/

Harga Karet di Sarolangun Terjun Bebas, Ini Penyebabnya

Dia mengatakan, harga karet saat ini sudah jauh turun. Jika sebelumnya harga karet sudah turun diangka Rp 8500 per kilogram

Harga Karet di Sarolangun Terjun Bebas, Ini Penyebabnya
TRIBUN JAMBI/HANIF BURHANI
Seorang petani tengah menyadap karet 

TRIBUNJAMBI.COM - Kenaikan harga karet di Kabupaten Sarolangun hingga Rp 11 ribu/Kg rupanya tak berumur lama. Saat ini harga karet sudah turun drastris, hingga menginjak di angka Rp 7500 per kilogram.

Kondisi tersebut dikeluhkan sejumlah petani yang ada di Kabupaten Sarolangun. Seperti yang disampaikan, Arizal petani karet asal Sarolangun, Selasa (18/4).

Dia mengatakan, harga karet saat ini sudah jauh turun. Jika sebelumnya harga karet sudah turun diangka Rp 8500 per kilogram, maka pada minggu ini mengalami penurunaan lagi hingga Rp 7000 per kilogram.

”Kemarin saya jual dengan tengkulak enam ribu sembilan ratus,” ujar Arizal.

Selain harganya yang terus menurun keluhnya, kesulitan yang dirasakan para petani saat ini adalah cuaca sering terjadi hujan. Sehingga hasil sadapan karet petani tidak maksimal.

”Beberapa waktu lalu kebun kami terendam banjir, jadi penghasilan belum stabil. Belum lagi sekarang musim penghujan dan harga turun, tambah berat beban kami,” ungkapnya.

Terkait hal ini Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan perdagangan Kabupaten Sarolangun, Kholidi dikonfirmasi mengatakan, melemahnya harga karet bukan hanya terjadi di Sarolangun. Tapi hal ini terjadi se Provinsi Jambi, malah secara nasional.

“Melemahnya harga karet berpengaruh terhadap ekonomi masyarakat. Tapi Perindagkop belum bisa memastikan batas waktu rendahnya harga karet,” sebutnya.

Kholidi menyebutkan, sebelumnya ketika naiknya harga karet, perserikatan perdagangan karet Indonesia sudah menjalin kerja sama dengan beberapa negara produksi karet Asia. Tapi apakah kerja sama tersebut berpengaruh terhadap harga komiditi karet atau tidak, pihaknya belum mengetahuinya.

“Hingga kini belum mendapat informasi, terhadap jalinan kerja sama perserikatan perdagangan karet Indonesia dengan beberapa negera produksi karet Asia, apakah masih terjalin atau tidak,” tambahnya.

Kondisi turunnya harga karet, Kholidi meminta petani bersabar. Sebab, naik dan turunnya harga karet dinilai hal yang biasa terjadi sejak dulunya.

“Janganlah menjadi ganjalan bagi petani untuk mengalihkan fungsi lahan, lantaran menurunnya harga karet. Tapi kondisi ini petani harus bersabar,” pungkasnya.

Penulis: heru
Editor: bandot
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help