TribunJambi/

IHSG Potensi Melambat Seiring Pilkada DKI

"Hal ini membuat investor mengalihkan investasi ke emas dan instrumen safe haven lainnya,"

IHSG Potensi Melambat Seiring Pilkada DKI
KONTAN
Ilustrasi. 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah ke level 5.577 turun 0,70%. Pelemahan IHSG seiring dengan memasuki periode Pilkada DKI Jakarta pada 19 April 2017.

Analis NH Korindo Sekurutas, Bima Setiaji menyampaikan, investor akan sangat mungkin fokus ke sentimen domestik yaitu pilkada DKI Jakarta dan memilih sikap wait and see. Sentimen lainnya berasal dari sentimen geopolitik dari AS - Rusia - Suriah - China - Korea Utara yang dilihat membuat ketidakpastian dan kekhawatiran di bursa global.

"Hal ini membuat investor mengalihkan investasi ke emas dan instrumen safe haven lainnya," ujarnya kepada KONTAN, Senin (17/4).

Volume perdagangan sepi, yang hari ini tercatat Rp 5,6 triliun, diperkirakan Bima menular hingga esok. Sehari sebelum pilkada, dia meramal, IHSG akan bergerak flat cenderung melemah, dengan rentang pergerakan support 5.555 dan resistance 5.601.

Analis Binaartha Sekuritas, M Nafan Aji menyampaikan, sentimen dari dalam negeri mengenai surplus neraca perdagangan tak mendorong bursa karena hasilnya yang lebih rendah ketimbang bulan lalu, yaitu US$ 1,23 miliar versus US$ 1,26 juta.

"Namu faktor eksternal paling berpengaruh terhadap melemah IHSG hari ini," ungkapnya.

Isu ketegangan di Semenanjung Korea dimana kebijakan Korea Utara yang terus mengembangkan uji coba sistem rudal balistiknya serta kebijakan proliferasi nuklirnya, membuat para investor lebih memilih instrumen investasi yang bersifat safe haven, seperti emas dan yen. Sehingga IHSG mengalami capital outflow.

Secara teknikal, adapun candle membentuk pola three outside down yang mengindikasikan potensi koreksi lanjutan pada pergerakan IHSG dengan support 5.541 dan resistance 5.650. Isu ketegangan di Semenanjung Korea masih menjadi sentimen yang dominan. (Hasyim Ashari)

Editor: duanto
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help