Penguatan CPO Kemungkinan Untuk Jangka Pendek

Kenaikan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) saat ini belum menjamin tren penguatan dalam jangka panjang.

Penguatan CPO Kemungkinan Untuk Jangka Pendek
KONTAN/PANJI INDRA

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kenaikan harga minyak sawit mentah alias crude palm oil (CPO) saat ini belum menjamin tren penguatan dalam jangka panjang. Harga CPO masih rentan koreksi lantaran peluangnya naiknya angka produksi.

Mengutip Bloomberg, Jumat (17/3), harga CPO kontrak pengiriman April 2017 di Malaysia Derivative Exchange menguat 0,25% ke level RM 2.803 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, CPO menanjak hingga 3%.

Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Agus Chandra mengatakan, penguatan harga CPO dalam jangka pendek masih cenderung terbatas. Laju harga masih rentan dengan kenaikan produksi dan penurunan permintaan. "Hanya program biodiesel dari Malaysia dan Indonesia yang diharapkan mampu menahan koreksi harga CPO," paparnya.

Harga CPO terlihat bergerak dalam tren melemah sejak pertengahan bulan Februari lalu. Faktor penekan harga adalah ekspektasi pulihnya output CPObaik dari Indonesia maupun Malaysia.

Di saat yang sama, outlook permintaan dari China dan India memburuk. Apalagi, China menaikkan bea impor CPO.

Impor CPO India bulan Februari secara tahunan sebenarnya meningkat untuk pertama kali sejak April 2016. Solvent Extractors’ Association of India menyatakan, impor CPO bulan lalu naik 21% menjadi 736.207 metrik ton dibanding periode sama tahun sebelumnya. Total impor minyak nabati India naik 17% menjadi 1,27 juta ton.

India mulai menaikkan impor CPO untuk memenuhi pasokan minyak nabati dalam negeri yang menurun. Stok minyak nabati India per tanggal 1 Februari tercatat sebesar 1,73 juta ton atau terendah sejak Oktober 2014. Kini pasokan meningkat menjadi 1,97 juta ton per 1 Maret setelah kenaikan impor pekan lalu.

"Tetapi naiknya impor India hanya akan meredam penurunan jangka pendek. Tren harga CPO masih tetap bearish," lanjut Agus.

Agus mengatakan, baik China maupun India kini lebih memilih minyak kedelai untuk memenuhi kebutuhan minyak nabati dalam negeri lantaran harganya lebih murah. Jika hal tersebut terus terjadi harga CPO pada kuartal kedua akan bergerak melemah terbatas dengan kisaran RM 2.500 - RM 3.000 per metrik ton.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help