Manusia Kuno Berperan dalam Perubahan Sahara dari Daerah Subur Nan Hijau Menjadi Daerah Gurun

TRIBUNJAMBI.COM- Pernah melihat Gurun Sahara? Gurun ini merupakan gurun terbesar ketiha di dunia.

Manusia Kuno Berperan dalam Perubahan Sahara dari Daerah Subur Nan Hijau Menjadi Daerah Gurun
Karim Bouchetata/Telegraph
Setelah hampir 40 tahun salju kembali turun di gurun Sahara, Afrika Utara tepatnya di dekat kota Ain Sefra, Aljazair. 

TRIBUNJAMBI.COM- Pernah melihat Gurun Sahara? Gurun ini merupakan gurun terbesar ketiga di dunia. Wilayahnya sebanding dengan luas Amerika Serikat.

Saking luasnya, kita pasti bisa melihat betapa kokohnya gurun ini. Tapi ternyata gurun ini pada sekitar 10.000 tahun yang lalu adalah tanah hijau yang dikelilingi danau.

Lalu kemana menghilangnya tanah hijau dan danau itu? Menurut para arkeolog dan ahli ekologi dari Seoul National University, Korea Selatan, manusia kuno bisa saja berperan dalam transisi besar dari tanah hijau menjadi gurun pasir.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Frontiers di Earth Science, telah menyelidiki peran dari aktivitas manusia dalam perubahan Gurun Sahara ini.

Ini dimulai ketika masyarakat neolitik Afrika bereksperimen dengan pertanian di dekat sungai Nil sekitar 8.000 tahun yang lalu.

Untuk mempertahankan ternak dan meningkatkan jumlah vetegasi (keseluruhan komunitas tetumbuhan di suatu tempat tertentu), membuat jumlah rumput berkurang drastis.

(Akhirnya Salju Turun Lagi di Gurun Sahara Setelah Hampir 40 Tahun Lamanya)

Vegetasi sendiri memotong tanah untuk di scrub agar tidak terkena sinar matahari. Sehingga membuat jumlah sinar matahari dipantulkan kembali dari permukaan Bumi.

Hal ini ternyata memicu penurunan curah hujan yang menyebabkan hilangnya vegetasi. Pada akhirnya, seluruh daerah di sini menjadi gurun yang panas.

Untuk hasil lebih lanjut, mereka perlu kembali ke Sahara untuk menyakini jawaban ini.

“Ada danau di Sahara saat ini dan mereka memiliki catatan perubahan vegetasi. Tapi kita perlu menelusuri lebih dalam danau tersebut,” ucap Dr. David Wright, pemimpin penelitian dilansir dari iflscience.com.

Author :Mentari Desiani Pramudita

Editor: ridwan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help