TribunJambi/

Jangan Marah Saat Tahu Anak Melihat Adegan Seks, Inilah yang Mesti Kita Lakukan

TRIBUNJAMBI.COM - Banyaknya kasus video anak SMP yang melakukan adegan seks tak pelak membuat banyak

Jangan Marah Saat Tahu Anak Melihat Adegan Seks, Inilah yang Mesti Kita Lakukan
all4women.co.za
21072016 hubungan seks 

TRIBUNJAMBI.COM - Banyaknya kasus video anak SMP yang melakukan adegan seks tak pelak membuat banyak orangtua ketakutan anaknya “dewasa lebih dini” dan bersinggungan dengan masalah seksualitas sebelum waktunya.

Seperti juga Utami (nama disamarkan), 33 tahun, ibu seorang putra yang bernama Bintang (nama disamarkan), 3 tahun. Utami terkejut ketika pulang kantor ia mendapati putranya membuat gerak-gerik yang janggal untuk anak seusianya.

Ia memeluk bantalnya dengan posisi menelungkup, kemudian dia menaik-turunkan bagian pinggangnya, seperti gerakan suami-istri melakukan hubungan seksual. Terlebih ketika Bintang menyebut kalimat, “main kuda-kudaan, kayak Mbak sama Mas.” “Mbak” adalah sebutan Bintang untuk pengasuhnya.

Bagai tersambar petir, sang ibu langsung paham, putra tersayangnya baru saja menyaksikan hal yang belum sepantasnya dia lihat. Dia bahkan bisa mengisahkan dengan cukup rinci apa yang pernah dia saksikan itu. Ibu mana yang tidak runtuh hatinya?

Seperti dijelaskan Roslina Verauli, M.Psi, psikolog keluarga dan anak, seharusnya anak di usia dini memang belum memahami makna seksualitas secara utuh.

“Ketika anak seusia itu (3 tahun) melihat adegan seksual secara langsung, anak tidak berkhayal atau berimajinasi seksual. Tapi kalau anak terlalu banyak terekspose dengan visualisasi seperti itu, anak akan mudah terokupasi; terlalu memusatkan diri pada seks,” Vera menerangkan. Jika anak memasuki masa remaja dan pubertas dengan kondisi seperti itu, orangtua wajib khawatir.

Kalau orangtua sudah telanjur kecolongan seperti itu, orangtua harus memberikan perhatian khusus pada sang anak, dengan tujuan menetralkan imajinasi anak dari paparan seksual tersebut. Salah satu sifat alamiah anak usia pra-remaja adalah selalu tertarik dan penasaran atas apa yang dia lihat dan rasakan.

Kalau dia tidak mempunyai jawaban sendiri atas apa yang dia lihat, kemungkinan yang paling besar adalah bertanya kepada orangtuanya.

Banyak kasus di mana orangtua justru memarahi anak ketika dia menanyakan atau mengungkap hal yang dianggap tabu di masyarakat, seperti “pacaran itu ngapain sih, Ma?” Atau di kasus Bintang, dengan polosnya dia mendefinisikan “kuda-kudaan”.

Menurut Vera, respons orangtua yang justru memarahi anak itu tidak tepat, “karena ketika orangtua melarang anak membicarakannya –bahkan mengharamkannya, maka anak langsung punya pemahaman bahwa pacaran itu haram,” terangnya.

Seharusnya, Vera melanjutkan, yang harus dilakukan orangtua adalah bersikap rileks dan netral. “Karena anak belum mempunyai pemahaman akan nilai seksual tertentu; apakah adegan itu terampau ‘seksual’, atau provokatif secara seksual,” kata Vera.

Nah, di sinilah peran orangtua. Alih-alih melarang anak membicarakan hal tersebut, bangunlah pemahaman anak tentang hal tersebut. Caranya, kembalikan pertanyaan-pertanyaan itu kepada anak, sehingga anak membangun pemahaman sendiri atas pertanyaan-pertanyaan tersebut sesuai dengan fase perkembangan seksual, psikologis, dan kognitifnya.

“Hal itu juga untuk menguji anak, sampai mana sih, pemahaman anak?” tutur Vera.

Yang paling penting, lanjut Vera, jangan ungkit-ungkit lagi kejadian tersebut. Buat anak menganggap itu hal yang tidak penting, tak peduli seberapa syok orangtua atas kejadian itu.

Dari sudut pandang psikologi kognitif, ingatan-ingatan anak usia 4 tahun ke bawah belum terintegrasi dan terstruktur, sehingga memori akan sebuah kejadian bisa hilang di alam bawah sadarnya. “Makanya, hal tersebut bisa dihapus dari ingatan,” kata Vera.

Author :intisari-online

Editor: ridwan
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help