GALERI FOTO: Tak Tersentuh Pembangunan, Petani Rantau Badak Angkut Sawit dengan Sling

Jauh di pedalaman Kabupaten Tanjung Jabung Barat, persisnya di Desa Rantau Badak, Kecamatan Muara Papalik,

GALERI FOTO: Tak Tersentuh Pembangunan, Petani Rantau Badak Angkut Sawit dengan Sling
TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI - Jauh di pedalaman Kabupaten Tanjung Jabung Barat, persisnya di Desa Rantau Badak, Kecamatan Muara Papalik, masyarakatnya nyaris tak tersentuh pembangunan.

Di Desa Rantau Badak tersebut, petani mengangkut tandan buah segar (TBS) sawit mereka harus menggunakan sling. Sling baja itu mereka jadikan “jembatan” untuk menyeberangi anak sungai di sana. Anak sungai itu membentang sejauh lebih kurang 25 meter

Bagi warga yang memiliki lahan perkebunan yang dipisahkan dengan anak sungai tersebut, tidak ada pilihan. Mau tak mau mereka mengangkut hasil kebun mereka dengan sling. Lewat darat, mereka harus memutar jalan dengan jarak yang cukup jauh.

Jalur air? "Kalau air besak kito pakek perahu mudahlah masih. Tapi kalo kemarau jarak air dengan daratan tu sampai 10 meteran," ujar Ridho, petani di sana.

Tingginya jarak antara permukaan sungai dengan daratan itulah yang membuat mereka kesulitan. Jembatan sling yang mereka sebut ancak itu mereka buat sejak pertengan September lalu. Idenya muncul dari seorang warga untuk membangun alat penyeberangan yang efisien.

21022017_sling2
(TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN)

Suara lengkingan dan gesekan antara katrol dengan kawat baja begitu terdengar jelas saat Tribun di sana. Sling yang ketebalannya sebesar ibu jari itu membentang di atas sungai.

Sayup-sayup terdengar aba-aba dari seberang sungai. Itu pertanda janjang pengangkut sawit siap ditarik dan diseberangkan.

Perlahan, keranjang kawat yang dibuat dari besi behel tersebut meluncur dari sisi seberang menuju sisi lainnya. Dibantu dengan tali tambang, seorang petani menariknya. Dengan beban angkut lebih kurang sepikul hanya hitungan menit TBS berpindah tempat.

Ridho (40) bilang, ide pembuatan sling muncul karena sulitnya warga membawa keluar hasil kebun menuju pinggir jalan tempat pengangkutan. Terlebih kala musim kemarau tiba ditambah pula debit air sungai jauh surut.

Jembatan sling dibangun dari hasil swadaya petani yang memiliki kebun di sana. Per kepala dibebankan Rp 200 ribu.

21022017_sling3
(TRIBUN JAMBI/ABDULLAH USMAN)

Dikatakannya pula, sling tersebut tidak hanya digunakan sebagai penyeberangan hasil kebun, pupuk atau sparodi lainnya. Tak jarang pemilik kebun turut diangkut menyeberang.

"Segalo diangkut, mulai dari sawit, pupuk sampai orangnyo jugo," bebernya.

Tak jarang banyak barang bawaan jatuh saat melintas di atas aliran sungai tersebut. Mulai dari gancu, parang hingga peralatan lainya.

Dikatakan Ridho, di Desa Rantau Badak bukan tidak ada jembatan. Ada dua jembatan gantung yang telah dibangun untuk penyeberangan. Namun jembatan tersebut masih terbilang jauh dari lokasi kebun mereka.

Penulis: Abdullah Usman
Editor: fifi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved