TribunJambi/
Home »

News

» Jakarta

Analisis Cerdas dan Mengejutkan Netizen tentang Debat Putaran Pertama Pilkada DKI Jakarta

Debat Pilgub DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2017) malam masih menarik perhatian netter.

Analisis Cerdas dan Mengejutkan Netizen tentang Debat Putaran Pertama Pilkada DKI Jakarta
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 1 Agus Yudhoyono dan Sylviana Murni, Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur nomor urut 2 Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat, dan Pasangan Calon nomor urut 3 Anies Baswedan dan Sandiaga Uno saat mengikuti debat Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta di Jakarta, Jumat (13/1/2017). Dalam debat pertama kali ini KPU DKI Jakarta mengangkat tiga isu, yakni sosial-ekonomi, pendidikan-kesehatan, dan lingkungan-transportasi. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Dua netizen paparkan pemikirannya secara jujur dan apa adanya, analisis yang cerdas menyimpulkan hasil debat dan paparan tiga pasangan calon, Sabtu (14/1/2017).

Debat Pilgub DKI Jakarta di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Jumat (13/1/2017) malam masih menarik perhatian netter.

Terbukti kolom komentar berita di bawah ini masih laris dengan tanggapan netizen.

Melalui kolom komentar pada berita tersebut masing-masing netizen memiliki pilihan dan membela kandidatnya dengan argumen masing-masing.

Tapi ada dua netizen yang memaparkan analisisnya secara jujur dan cerdas.

Analisis ini pun menuai pro dan kontra ada yang memuji ada juga yang mencemooh.

Berikut analisis netizen.

Akun Facebook dengan nama Johan Ferdianto menulis:

No. 3 Konsep nya berikan contoh, pantau dan evaluasi hasil nya di masyarakat. Cukup logis dan masuk akal. Tapi implementasi sangat wajar diragukan melihat track pak Anies, dan tantangan dari sekedar teori menjadi realisasi. Kesimpulan: Yang di pertaruhkan objek nya (hasil).

No. 2 Konsep nya lu diem aja, gw yang atur semua nya. Logis dan masuk akal juga karena mengatur yg sedikit (birokrat) relatif lebih mudah daripada mengatur yg lebih banyak (masyarakat). Tapi sejatinya manusia bukanlah robot, tanpa kesadaran yg tinggi dari masyarakatnya (Gentle kita akui itu masih jauh dari kata cukup), metode itu akan selalu terbentur, gesekan akan selalu terjadi, yang akhirnya selalu mempertajam pro dan kontra dari sudut pandang yg berbeda karena dua sudut pandang itu sama2 memiliki kebenarannya sendiri. Belum lagi rawan di jadikan materi politis dari pihak lawan yang akhirnya mengorbankan masyarakat yang berseberangan. Kesimpulan: Yang di pertaruhkan subjek nya (pelaku).

Halaman
12
Editor: awang
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help