Perbankan

Awal 2017 Ramai Rombak Kepemilikan di Perbankan

Kegiatan bisnis industri perbankan diwarnai dengan pergerakan bisnis anorganik di awal tahun ini.

Awal 2017 Ramai Rombak Kepemilikan di Perbankan
KONTAN/BAIHAKI
Ilustrasi 

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Kegiatan bisnis industri perbankan diwarnai dengan pergerakan bisnis anorganik di awal tahun ini. Sebut saja, ada pembelian saham di PT Bank Ina Perdana Tbk dan PT Bank Victoria Tbk. Tak hanya itu, rencana pelepasan saham Australian & New Zealand Banking (ANZ) di PT Bank Pan Indonesia Tbk (Panin) kembali memanas di awal tahun ini.

Misalnya, Liontrust melalui NS Financials Fund dan NS Asean Financial Fund membeli saham di PT Bank Ina Perdana Tbk. Edy Kuntardjo, Direktur Utama Bank Ina Perdana mengakui ada transaksi tersebut. Ada aksi jual beli di pasar negosiasi oleh Liontrust Ltd dengan wali amanat dari NS Financials Fund. Transaksi oleh NS Financials Fund dan NS Asean Financials Fund telah dilakukan pada transaksi 21 Desember 2016.

"Liontrust melalui Financials Fund membeli saham 10,58% di Bank Ina Perdana, dan Liontrust melalui NS Asean Financial Fund membeli saham 18,44% di Bank Ina Perdana," kata Edy, kepada KONTAN, Kamis (5/1). Artinya, Liontrust menguasai saham 29,02% di Bank Ina Perdana. Masuknya Liontrust ini membuat kepemilikan saham di Bank Ina Perdana berubah.

Edy bilang, saham publik sebesar 29,76% di Bank Ina Perdana akan beralih ke tangan Liontrust. Sisanya, kepemilikan saham Bank Ina Perdana tetap dimiliki oleh Oki Widjaja sebesar 4,00%, PT Philadel Terra Lestari sebesar 20,00%, OCBC Securities Pte.Ltd sebesar 28,99%, PT Indolife Pensiontama sebesar 17,25%.

Masuknya, investor baru ini akan memperkuat modal Bank Ina Perdana. Saat ini Bank Ina dalam proses pengajuan ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memperoleh persetujuan right issue pada bulan Februari 2017. "Lewat right issue Bank Ina akan memperoleh tambahan dana sekitar Rp 703 miliar sehingga Bank Ina Perdana akan menjadi kelompok bank BUKU 2," tambahnya.

Bank Ina perdana akan memiliki modal sekitar Rp 1,1 triliun. Dengan modal tersebut maka dapat menyelenggarakan layanan berbasis internet bankinguntuk juga menyasar ke segmen bisnis ritel. Ke depan, bank berkode saham BINA ini menargetkan pertumbuhan kredit yang konservatif yaitu 8% di tahun 2017 karena ekonomi belum kondusif dan likuiditas masih ketat.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help