Perbankan

Duit Perbankan di SUN Tertinggi dalam 5 Tahun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai Oktober 2016, total nilai dana milik perbankan yang diparkir

Duit Perbankan di SUN Tertinggi dalam 5 Tahun
KONTAN/FRANSISKUS SIMBOLON

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, sampai Oktober 2016, total nilai dana milik perbankan yang diparkir di surat utang negara mencapai Rp 884,64 triliun. Angka penempatan tersebut merupakan yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Berdasarkan data statistik perbankan Indonesia (SPI) OJK, jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2015 saja, kenaikan penempatan ini mencapai 31,99%.

Jika dilihat, kelompok bank yang menyumbang penempatan bank di surat utang negara adalah bank umum kelompok usaha (BUKU) III yang memiliki modal inti antara Rp 5 triliun sampai Rp 30 triliun dan BUKU IV dengan modal inti di atas Rp 30 triliun.

Kontribusi kedua kelompok BUKU tersebut tercatat sebesar 86,19% dari total dana bank yang diparkir di surat utang negara. Adapun mayoritas 62% penempatan dana ini ditempatkan pada obligasi, sedangkan 12,91% lainnya di sertifikat bank Indonesia (SBI).

Kalangan bankir menyebut, sampai akhir tahun 2016 ini, penempatan dana perbankan di surat berharga juga masih tinggi. Ada dua penyebab utama yang membuat perbankan memilih memarkirkan dananya di surat berharga.

Pertama, masih lemahnya pertumbuhan kredit dikarenakan para pelaku usaha masih wait and see terhadap kondisi ekonomi dalam negeri. “Pertumbuhan kredit belum sesuai harapan,” ujar Parwati Surjaudaja, Direktur Utama Bank OCBC NISP, Rabu (28/12).

Sedangkan faktor yang kedua adalah lantaran adanya peningkatan dana di perbankan sebagai imbas dari program amnesti pajak (tax amnesty) yang digelar oleh pemerintah tahun ini.

Direktur Utama Bank Panin Herwidayatmo menuturkan, penempatan dana dalam surat berharga memang menjadi salah satu alternatif pilihan yang dapat digunakan perbankan untuk menyalurkan dana simpanan (DPK) yang terus tumbuh.

"Apalagi surat utang negara ini cukup bervariasi, seperti obligasi pemerintah, korporasi, surat berharga Indonesia, sukuk, dan surat perbendaharaan negara yang berjangka pendek,” ujarnya.

Tersedianya beberapa instrumen jangka pendek seperti surat perbendaharaan negara tersebut dinilai sangat membantu perbankan. Sehingga saat permintaan kredit sudah mulai tumbuh, bank bisa dengan mudah mencairkannya dan mengalihkannya menjadi kredit.

Halaman
12
Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help