TribunJambi/

EDITORIAL

Ditampar Harga Karet

MIRIS rasanya saat mendengar curahan hati petani karet di Jambi yang telah menebangi pohon karetnya untuk diganti tanaman lain semisal ubi dan kelapa

MIRIS rasanya saat mendengar curahan hati petani karet di Jambi yang telah menebangi pohon karetnya untuk diganti tanaman lain semisal ubi dan kelapa sawit. Alasan keterpurukan hargalah yang membuat petani terpaksa mengambil keputusan demikian. Harga karet tak lagi bersahabat.

Padahal karet merupakan komoditi yang telah menjadi unggulan Jambi sejak zaman dulu, bahkan saat negara ini belum merdeka. Keberadaan komoditi karet ini pula yang membuat warga Jambi di masa sebelum dan awal kemerdekaan sangat banyak yang mampu menunaikan ibadah haji.

Namun masa keemasan itu tak lagi dirasakan, setidaknya tiga tahun belakangan ini. Jangankan untuk bisa sejahtera, untuk bertahan hidup dengan mengandalkan komoditi karet yang harganya sedang hancur lebur saat inipun sudah susah. Petani akhirnya beraksi, menebangi pohon karetnya.

Persoalan harga karet yang rendah ini tak pelak jadi komoditi politik pada saat pemilihan gubernur lalu. Dua pasang kandidat pada saat itu, sama-sama berjanji memperbaiki harga karet bila terpilih jadi gubernur. Kini sudah terpilih, sudah memimpin, tapi perbaikan harga karet belum juga terlihat.

Memang harus disadari bahwa memperbaiki harga karet ini bukanlah perkara yang mudah, sebab karet yang dihasilkan di Jambi sebagian besar untuk diekspor. Artinya harga karet dunia memang sangat mempengaruhi. Produksi dari negara lain dan kebutuhan dunia mempengaruhi harga karet.

Namun yang pantas untuk disimak secara seksama dalam hal ini adalah masih minimnya upaya- upaya dari pemerintah untuk memperbaiki nasib petani di tengah harga yang buruk itu. Satu di antara penyebab rendahnya harga karet ini tentu saja tata niaga karet yang masih sangat panjang.

Bisa dibayangkan, petani karet menjual getahnya kepada tauke kecil tingkat desa. Nantinya dari tauke tersebut akan jual lagi ke tauke besar atau pedagang besar atau ke pasar lelang. Setelah itu pedagang besar akan jual ke pabrik. Tataniaga yang panjang ini seharusnya bisa cepat dipangkas.

Sebagaimana teori ekonomi, semakin panjang rantai tataniaga, semakin tinggi margin (selisih) antara harga produsen dengan konsumen. Dalam hal ini petani karet adalah produsen, sedangkan pabrik sebagai konsumen. Setiap tauke tentu mengambil untung, membuat harga beli rendah.

Bisa dibayangkan seandainya petani bisa menjual langsung ke pabrik. Berapa rupiah yang nanti akan bisa bertambah untuk petani. Inilah yang kiranya perlu dilihat pemerintah sebagai pemegang kunci untama dalam kebijakan. Petani harus dimampukan agar bisa menjual langsung ke pabrik.

Hal lain yang tentu bisa untuk menaikkan harga jual petani, sembari menunggu harga karet dunia membaik, adalah dengan industri hilir, semisal memperbanyak pabrik-pabrik yang memproduksi barang jadi atau setengah jadi di Jambi. Semakin banyak industri pengolahan, akan makin besar pula potensi untuk petani mendapatkan harga yang lebih baik.

Persoalan karet ini sebenarnya bukan pula sekadar persoalan ekonomi petani, tapi juga persoalan kelestarian alam di daerah ini. Karet termasuk tanaman kehutanan. Mengganti tanaman karet dengan sawit atau ubi kayu, sama saja dengan menyebabkan deforestrasi.

Ekosistem makin rusak, lingkungan semakin hancur. Faktor ekonomi dan faktor lingkungan ini yang kiranya bisa menjadi perhatian pemerintah dan pihak terkait, supaya jangan sampai semakin luas kebun karet yang alih fungsi. (*)

Editor: duanto
Sumber: Tribun Jambi
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help