Perbankan

NPL Sektor Komersial Masih Bayangi Perbankan

Para bankir nampaknya masih harus kerja keras untuk menangani kredit bermasalah sampai akhir tahun

NPL Sektor Komersial Masih Bayangi Perbankan
ANTARA FOTO/PRASETYO UTOMO

TRIBUNJAMBI.COM, JAKARTA - Para bankir nampaknya masih harus kerja keras untuk menangani kredit bermasalah sampai akhir tahun ini. Hal ini bisa dilihat dari kualitas kredit di sektor komersial yang sampai kuartal III-2016 yang masih cukup tinggi bahkan melebihi batas atas yang ditetapkan regulator di angka 4%.

Berdasarkan catatan KONTAN, dari tujuh bank yang telah mempublikasikan data NPL komersial dan medium sampai kuartal III-2016, ada empat bank yang mempunyai NPL di sektor komersial yang melebihi batas aman yaitu 4%.

Empat bank tersebut adalah Bank Mandiri yang memiliki NPL sektor komersial sebesar 6,34%, BRI 6,52%, BTN 13,16% dan CIMB Niaga di angka 7,4%.

Tingginya kredit NPL di Bank BTN disebabkan karena sektor konstruksi baik perumahan maupun non perumahan. “NPL di sektor kredit komersial ini disebabkan karena jumlah debitur yang menunggak relatif banyak,” ujar Oni Febriarto Rahardjo, Direktur Kredit Komersial BTN kepada KONTAN, Minggu (6/11).

Sementara kredit macet debitur di sektor perdagangan dan manufaktur menjadi penyebab NPL tinggi di BRI. “Kredit macet debitur sektor menengah ini lebih disebabkan karena efek kondisi ekonomi,” ujar Haru Koesmahargyo Direktur Keuangan BRI, baru baru ini.

Beberapa bank lain menyebut NPL di sektor komersial ini disebabkan dari industri manufaktur, dan beberapa industri terkait komoditas dan tambang. PT Bank Negara Indonesia Tbk misalnya mempunyai NPL sektor komersial sebesar 3,30%. “Ini disebabkan karena sektor manufaktur seperti industri pengolahan plastik,” ujar Putrama Wahju Setiawan, Direktur BNI kepada KONTAN, Minggu (6/11).

Beberapa bank sudah menyiapkan strategi untuk mengendalikan NPL di sektor komersial ini. Menurut Hari Siaga Sekertaris Perusahaan BRI, untuk menekan NPL sektor menengah bank akan benar-benar memilih nasabah dan melakukan antisipasi kondisi dini nasabah.

Sementara BTN mempunyai strategi seperti pemilihan proyek yang sangat prospek dengan pengembang yang berpengalaman. Adapun Bank Permata dengan prospek harga batubara dan sawit yang mulai pulih, diharapkan bisa membawa dampak positif ke kemampuan membayar kembali debitur.

Editor: fifi
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help